Bukti atau Petunjuk Adanya Evolusi

Evolusi adalah proses perubahan yang berlangsung secara perlahan-lahan dalam jangka waktu yang sangat lama sehingga sulit untuk membuktikan bahwa evolusi itu benar-benar terjadi atau hanya sekadar teori yang hasilnya belum dapat dipastikan. Namun, para ahli berpendapat bahwa terjadinya evolusi setidaknya dapat dilihat dari tanda-tanda yang dapat dijumpai pada organisme yang tersisa, baik yang masih hidup maupun yang telah menjadi fosil. Beberapa hal yang dapat dijadikan bukti atau Petunjuk Adanya Evolusi, antara lain fosil, perbandingan anatomi, perbandingan embriologi, perbandingan biokimia, alat tubuh yang tersisa, dan domestikasi.

1. Fosil

Petunjuk Adanya Evolusi dapat dijumpai dalam catatan fosil. Istilah fosil berasal dari bahasa Latin fossilis yang berarti menggali karena umumnya fosil ditemukan dengan cara menggali lapisan tanah atau batuan. Fosil adalah tubuh, bagian tubuh, jejak, ataupun sisa-sisa makhluk hidup yang terawetkan dalam beberapa cara, antara lain dalam batuan sedimen (kebanyakan dalam batu kapur dan tanah liat), dalam es, ataupun dalam getah lengket yang dihasilkan oleh pohon-pohon tertentu (misalnya, pinus).

Fosil umumnya terbentuk dari bagian terkeras suatu organisme. Pada hewan, bagian yang menjadi fosil adalah eksoskeleton Arthropoda, Mollusca, Echinodermata, ataupun endoskeleton dan gigi Vertebrata. Pada tumbuhan, bagian yang menjadi fosil adalah jaringan kayu (xilem dan serat), biji, serta spora atau serbuk sari yang memiliki lapisan pelindung. Walaupun memberikan bukti-bukti terjadinya perubahan makhluk hidup secara evolusi, catatan fosil tersebut tidaklah lengkap. Terdapat “celah” dalam catatan fosil yang seharusnya diisi oleh fosil-fosil makhluk hidup bentuk peralihan.

Evolusi kuda sebagai Petunjuk Adanya EvolusiSalah satu catatan fosil yang terbaik adalah catatan fosil evolusi kuda (Gambar di atas). Anggota kuda modern (ordo Eqiudae) yang meliputi kuda, zebra, dan keledai, semuanya berukuran besar dan memiliki kaki yang panjang serta merupakan hewan pelari cepat yang teradaptasi hidup di padang rumput terbuka. Kuda, zebra, dan keledai diklasifikasikan dalam genus Equus yang diduga berasal dari moyang kuda Eohippus (Hyracotherium) dari zaman Eosin sekitar 50 juta tahun yang lalu. Studi terhadap fosil-fosil kuda memberikan catatan yang sangat baik bagaimana evolusi terjadi melalui adaptasi terhadap perubahan lingkungan.

Antara Eohippus dari zaman Eosin dan Equus (kuda modern) terdapat sangat banyak spesies-spesies peralihan. Beberapa di antaranya adalah Mesohippus, Merychippus, dan Pliohippus. Namun, sebagian besar spesies-spesies peralihan tersebut telah punah. Penyusunan tulang dan gigi kuda yang telah memfosil menunjukkan suatu rangkaian evolusi kuda yang meliputi pertambahan ukuran tubuh dan panjang kaki-kakinya, mereduksinya jari lateral (samping) dan menyatunya jari ketiga (tengah), serta perkembangan gigi geraham pada rahang atas dan rahang bawah.

Contoh lain bentuk-bentuk peralihan yang ditemukan dalam catatan fosil adalah Archaeopteryx (berarti sayap purba) yang merupakan “missing link” antara reptil dan burung. Fosil Archaeopteryx ditemukan setelah diterbitkannya buku “The Origin of Species“. Fosil tersebut memperlihatkan adanya bentuk-bentuk reptil dan burung (Gambar di bawah).

archaeopteryx sebagai Petunjuk Adanya Evolusi

Berdasarkan catatan fosil yang ditemukan, Archaeopteryx memiliki gigi dan ekor yang bertulang belakang. Hal itu merupakan ciri-ciri reptil. Namun, Archaeopteryx juga memiliki ciri-ciri burung, yaitu berparuh dan berbulu. Karena Archaeopteryx memiliki ciri-ciri reptil dan burung, diduga ada hubungan kekerabatan secara evolusi antara reptil dan burung. Meskipun begitu, Archaeopteryx bukanlah moyang burung atau moyang reptil modern yang ada sekarang, tetapi merupakan “cabang” dari evolusi reptil, sepupu burung modern.

Ada dua metode untuk menghitung umur fosil (dating fossils), yaitu penanggalan (pentarikhan) relatif (relative dating) dan penanggalan (pentarikhan) absolut atau mutlak (absolute dating).

a. Relative Dating / Pentarikhan Relatif

Metode ini dilakukan dengan menentukan umur batuan tempat ditemukannya fosil. Umur batuan dapat ditentukan melalui seberapa jauh jarak batuan tersebut dari permukaan bumi. Batuan tua terdapat di lapisan terbawah. Data dari fosil lain yang ditemukan pada lapisan batuan yang sama juga dapat digunakan untuk memperkirakan umur sampel fosil baru.

b. Absolute Dating / Pentarikhan Absolut

Pentarikhan absolut dilakukan berdasarkan penghitungan laju peluruhan radioaktif dalam batuan. Dengan mengukur perbandingan antara bentuk radioaktif suatu unsur, misalnya uranium-238, menjadi bentuk nonradioaktif (bentuk ”meluruh”), para ilmuwan dapat menentukan kapan batuan terbentuk. Perubahan bertahap asam amino dari bentuk satu ke bentuk lainnya setelah organisme mati juga dapat digunakan untuk pentarikhan beberapa jenis fosil.

2. Perbandingan Anatomi

Petunjuk Adanya Evolusi yang lain dapat dilihat dari perbandingan anatomi. Perbandingan anatomi meliputi proses membandingkan struktur tubuh, seperti jantung dan rangka, pada hewan-hewan yang berbeda. Jika pada hewan-hewan berbeda terdapat struktur organ yang serupa, dapat diindikasikan hewan- hewan tersebut memiliki moyang yang sama. Perhatikan Gambar di bawah ini.

homolog struktur rangka tungkaai depan lima jenis vertebrata sebagai Petunjuk Adanya Evolusi

Walaupun tungkai depan kelima jenis Vertebrata itu memiliki fungsi yang berbeda, menggenggam, terbang, berlari, dan berenang, susunan serta jumlah tulang-tulangnya hampir sama. Ada satu humerus dengan sendi peluru pada salah satu ujung tulang dan sendi engsel pada ujung tulang yang lain. Humerus berhubungan dengan dua tulang lain, yaitu radius dan ulna, yang bergabung membentuk suatu tulang-tulang pergelangan yang berujung pada lima kelompok tulang-tulang jari. Pada burung, kelompok tulang pergelangan dan jari menghilang. Jika hewan-hewan tersebut tidak berhubungan, tampaknya sangat aneh bahwa susunan rangka tungkai depan yang mirip digunakan untuk melakukan hal-hal yang berbeda, seperti terbang, berlari, berenang, dan menggenggam. Struktur organ-organ tubuh dengan bentuk dasar yang sama, tetapi memiliki fungsi yang berbeda dinamakan homologi. Contohnya adalah sayap burung dengan kaki depan Mammalia dan sirip depan ikan. Sementara itu, organ-organ tubuh dengan bentuk dasar yang berbeda, tetapi memiliki fungsi yang sama dinamakan analogi. Contoh organ-organ tubuh yang analog adalah sayap burung dengan sayap kupu-kupu.

Homologi organ menunjukkan adanya hubungan kekerabatan antara spesies-spesies yang berbeda dan merupakan bukti terjadinya evolusi divergen, yaitu evolusi dari satu spesies menghasilkan beberapa spesies dengan anatomi (bentuk dasar) yang sama. Sementara iłu, kecenderungan spesies-spesies yang tidak berkerabat untuk memiliki bentuk, struktur, dan fungsi organ yang sama (organ-organ analog) menunjukkan terjadinya evolusi konvergen. Evolusi konvergen merupakan evolusi beberapa spesies berbeda yang menempati lingkungan sama dan akhirnya memiliki organ-organ tubuh yang sama fungsinya, meskipun secara anatomi (bentuk dasar) berbeda (Gambar di bawah).

evolusi konvergen, sebagai Petunjuk Adanya Evolusi

3. Perbandingan Embriologi

Suatu studi embriologi (ilmu Yang mempelajari tentang embrio) terhadap anggota-anggota Vertebrata menunjukkan adanya suatu kemiripan pada tahap-tahap awal perkembangan embrio. Hal itu juga menunjukkan adanya kesamaan moyang, sehingga menjadi Petunjuk Adanya Evolusi. Semua Vertebrata memulai kehidupan sebagai sel tunggal (zigot) yang merupakan hasil pertemuan antara sperma dan ovum. Selanjutnya, zigot berkembang menjadi morula, blastula, dan gastrula. Setelah itu, embrio akan mengalami diferensiasi jaringan sehingga terbentuk bermacam-macam organ tubuh. Perkembangan embrio-embrio Vertebrata menjadi organisme kompleks multiseluler memiliki kesamaan, antara lain adanya notokord, ekor, dan kantong insang (faringeal) (Gambar di bawah).

perbandingan embrio vertebrata, sebagai Petunjuk Adanya Evolusi

Perkembangan makhluk hidup dari zigot hingga dewasa dinamakan ontogeni, sedangkan perkembangan makhluk hidup dari bentuk yang paling sederhana hingga menjadi bentuk yang paling kompleks dinamakan filogeni. Dałam kaitannya dengan evolusi, ada suatu hubungan yang menarik antara ontogeni dan filogeni. Perkembangan embrio dari zigot hingga ke bentuk dewasa menunjukkan suatu perkembangan dari bentuk yang paling sederhana menuju bentuk yang sempurna atau kompleks.

Dałam hal ini dapat dikatakan terjadi filogeni. Sementara iłu, makhluk hidup yang bereproduksi secara seksual selalu mengalami perkembangan dari zigot hingga menjadi dewasa atau selalu terjadi ontogeni. Dari kedua hal tersebut, dapat dilihat bahwa dalam ontogeni terkandung pengertian terjadinya filogeni. Ontogeni selalu terjadi berulang-ulang dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga Ernst Haeckel (1834-1919) mengatakan bahwa ontogeni merupakan pengulangan singkat filogeni.

4. Perbandingan Biokimia

Bukti-bukti perbandingan biokimia mungkin merupakan Petunjuk Adanya Evolusi yang paling kuat. Semua organisme memiliki DNA sebagai bahan genetik dengan suatu kode genetik yang hampir universal. Tidak hanya itu, semua organisme memiliki ATP sebagai energi cadangan dan melakukan jalur metabolik yang serupa, contohnya dalam proses respirasi. Proses-proses fisiologis, seperti respirasi, melibatkan reaksi-reaksi biokimiawi yang serupa pada semua spesies. Membandingkan DNA merupakan cara lain untuk mengetahui tingkat kekerabatan dua spesies organisme.

Cara lain untuk, mengukur tingkat kekerabatan spesies adalah dengan mencari persamaan jumlah urutan asam amino dalam protein penting, misalnya sitokrom c dan protein hemoglobin yang terdapat pada Vertebrata. Variasi dalam urutan asam amino disebabkan oleh mutasi spontan (yang jarang terjadi) gen-gen yang mengodenya. Makin jauh hubungan kekerabatan dua spesies organisme, makin banyak perbedaan komposisi proteinnya karena makin banyak mutasi yang terjadi selama rentang waktu geologis yang memisahkan mereka. Sebagai contoh, sitokrom c monyet dan sapi lebih mirip dibandingkan sitokrom c monyet dan ikan. Kemiripan dan perbedaan tersebut menunjukkan bahwa monyet dan sapi berkerabat lebih dekat daripada monyet dan ikan. Adapun manusia dan simpanse memiliki urutan asam amino dan hemoglobin yang sama.

5. Alat Tubuh yang Tersisa (Organ Vestigial)

Beberapa organisme memiliki struktur atau organ-organ yang tampaknya tidak memiliki fungsi yang berguna. Sebagai contoh, manusia memiliki satu tulang ekor di ujung tulang belakang yang diduga tidak memiliki fungsi apa-apa. Beberapa jenis ular memiliki tulang pelvis (panggul) dan tulang tungkai, sedangkan beberapa jenis salamander gua memiliki mata, walaupun anggota spesies tersebut buta total.

pelvis dan femur paus, sebagai Petunjuk Adanya Evolusi

Manate (sapi laut) memiliki kuku-kuku jari pada sirip-siripnya (yang berevolusi dari kaki) dan paus memiliki tulang-tulang pelvis (panggul) seperti Mammalia lainnya (Gambar di atas). Organ-organ yang tampaknya tidak berfungsi iłu dinamakan organ-organ vestigial. Tulang ekor pada manusia homolog dengan ekor pada Primata lainnya. Jadi, organ-organ vestigial dapat dipandang sebagai Petunjuk Adanya Evolusi. Artinya, organisme-organisme yang memiliki organ-organ vestigial diduga memiliki moyang yang sama dengan organisme-organisme yang memiliki organ-organ yang homolog secara fungsional.

6. Domestikasi atau Seleksi Buatan

Domestikasi merupakan pembudidayaan makhluk hidup. Persilangan tumbuhan maupun hewan yang didomestikasi menciptakan varietas-varietas yang memiliki sedikit kemiripan ciri-ciri eksternal dengan spesies liar moyangnya. Seleksi buatan juga menyebabkan banyaknya varietas persilangan kucing, anjing, burung dara, sapi, dan hewan-hewan peliharaan lainnya. Dalam beberapa kasus, persilangan dikembangkan untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

Suatu famili organisme yang diseleksi oleh penyilang (manusia) menunjukkan ciri-ciri tertentu, contohnya burung dara yang memiliki bulu ekor berbentuk kipas. Penyilang mengawinkan burung-burung dara tersebut secara bersama-sama dan menyeleksi lagi keturunan-keturunannya untuk mendapatkan burung dara berbulu ekor berbentuk kipas yang lebih lebar.

Seleksi buatan ini mengakibatkan (setelah beberapa generasi) munculnya varietas persilangan murni burung dara dengan bulu ekor berbentuk kipas. Seleksi buatan menghasilkan perubahan-perubahan dalam waktu singkat. Para penyilang melakukan seleksi buatan untuk mendapatkan tumbuhan dan hewan dengan sifat-sifat yang diinginkan.

Charles Darwin mulai menyeleksi burung dara sebagai akibat langsung dari ketertarikannya terhadap variasi-variasi pada organisme. Dia mencatat hal itu dalam bukunya The Origin of Species. Buku itu menyatakan bahwa terdapat lebih dari selusin varietas burung dara, yang menurut ahli ornitologi adalah burung liar. Burung-burung itu dikenali sebagai spesies-spesies yang berbeda. Semua burung dara tersebut berasal dari burung dara batu, suatu jenis burung dara liar. Darwin berpendapat bahwa suatu spesies mampu berevolusi menjadi spesies lain karena adanya perubahan-perubahan yang terjadi secara bertahap dan karena adanya seleksi alam.

Demikian tulisan mengenai bukti / Petunjuk Adanya Evolusi. Semoga bermanfaat.

Sumber:

Pujiyanto, Sri.(2012). Menjelajah Dunia BIOLOGI 3 Untuk kelas XII SMA dan MA. Platinum: Solo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *