Ciliata atau Ciliophora : Ciri – Ciri dan Contohnya

Ciliata atau Ciliophora adalah salah satu anggota protozoa atau protista mirip hewan. Berikut akan dibahas mengenai ciri-ciri Ciliata atau Ciliophora dan contohnya (salah satunya adalah Paramecium). 

Ciri – Ciri Ciliata

Anggota Ciliata atau Ciliophora  memiliki ciri khusus, yaitu memiliki silia (cilia) atau rambut getar pada permukaan tubuhnya. (Silahkan lihat gambar Paramecium di bawah) Rambut getar tersebut ada yang terdapat pada seluruh permukaan tubuhnya dan ada yang terdapat hanya pada sebagian tubuhnya. Fungsi silia ini adalah untuk bergerak. Silia yang ada di sekitar mulut berguna untuk menimbulkan efek pusaran air yang membantu pengumpulan makanan. Makanan Ciliata umumnya berupa bakteri atau protozoa lainnya. Ciliata memiliki bentuk sel yang asimetris. Namun, karena memiliki pelikel, bentuk sel tersebut relatif tetap. Sel Ciliata memiliki dua nukleus, yaitu makronukleus dan mikronukleus. Makronukleus bertugas mengatur struktur dan metabolisme sel, sedangkan mikronukleus bertugas mengatur aktivitas reproduksi.

Paramecium, Contoh Ciliata

Contoh anggota filum Ciliata yang paling terkenal adalah Paramecium. Bentuknya seperti sandal dan hidup di perairan tenang yang kaya bahan organik. Seluruh permukaan tubuhnya diliputi beberapa ribu silia yang digunakan sebagai alat gerak. Paramecium bergerak maju, mundur, atau berbelok dengan cara menggetarkan silianya. Pangkal silia tersebut menancap pada pelikel. Pada Paramecium dapat dijumpai “mulut” yang disebut sitostoma yang merupakan lekukan permukaan sel. Sitostoma berfungsi sebagai jalan masuknya makanan ke dalam sel. Ujung sitostoma ini akan membentuk vakuola makanan. Di dalam vakuola makanan, makanan akan dicerna dan hasilnya diedarkan ke seluruh sel, sedangkan makanan yang tidak tercerna akan dikeluarkan melalui “lubang anus” (Gambar di bawah). Paramecium memiliki dua buah vakuola kontraktil yang digunakan untuk mengatur tekanan osmosis di dalam sel.

Gambar struktur paramecium, salah satu anggota ciliata

Paramecium memiliki dua buah inti, yang besar disebut makronukleus dan yang kecil disebut mikronukleus. Makronukleus berfungsi mengatur proses-proses yang dilakukan oleh sel, sedangkan mikronukleus berperan dalam pertukaran genetik pada saat konjugasi. Konjugasi merupakan cara reproduksi seksual pada Paramecium, sedangkan reproduksi aseksual dilakukan dengan cara pembelahan biner (Gambar di bawah).

pembelahan biner paramecium (anggota ciliata)
Gambar. Pembelahan biner pada Paramecium

Pada saat konjugasi, mula-mula dua Paramecium yang berbeda genetik saling berdekatan dan menyatu sebagian. Kemudian, mikronukleus pada tiap Paramecium mengalami meiosis membentuk empat mikronukleus haploid (n). Satu dari empat mikronukleus membelah mitosis, sedangkan tiga mikronukleus lainnya hancur. Dua pasang mikronukleus saling bertukar satu mikronuleus yang dilanjutkan dengan singami untuk membentuk mikronukleus diploid (2n). Dua Paramecium itu kemudian berpisah. Mikronukleus pada tiap Paramecium mengalami tiga kali mitosis membentuk delapan mikronukleus yang identik. Selanjutnya, makronukleus akan hancur dan empat mikronukleus berkembang menjadi makronukleus baru. Empat mikronukleus lainnya tetap sebagai mikronukleus. Setelah pembelahan, dua sel tetap sebagai mikronukleus. Setelah pembelahan dua sel (tanpa pembelahan nukleus), makronukleus dan mikronukleus baru dibagi-bagikan kepada empat Paramecium baru. Lihat Gambar di bawah ini.

Gambar reproduksi paramecium (anggota ciliata) secara konjugasi
Gambar. Konjugasi Parameceium

Contoh Ciliata Lainnya

Anggota Ciliata ada yang hidup bebas dan ada yang merupakan parasit pada organisme lain. Contoh Ciliata yang hidup bebas, antara lain Stentor, Vorticella, dan Didinium (Gambar di bawah). Stentor memiliki bentuk seperti terompet. Bagian mulutnya ditumbuhi silia dan bagian tangkainya melekat pada substrat. Vorticella berbentuk seperti lonceng bertangkai panjang. Didinium merupakan pemangsa Paramecium.

Gambar stentor, vorticella, dan didinium, contoh ciliata

Anggota Ciliata yang merupakan parasit pada organisme lain, di antaranya, adalah Balantidium coli. Balantidium coli merupakan penyebab balantidiasis yang gejalanya mirip dengan amebiasis, yaitu diare berdarah. Balantidium coli merupakan Protozoa penyebab penyakit terbesar di dalam usus manusia dengan panjang mencapai 0,2 mm. Inang utamanya adalah babi. Manusia dapat terinfeksi balantidiasis melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh kotoran babi yang mengandung Balantidium coli.

Sumber:

Pujiyanto, Sri.(2012). Menjelajah Dunia BIOLOGI 1 Untuk kelas X SMA dan MA. Platinum: Solo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *