Filum Chordata : Ciri, Struktur Tubuh, Klasifikasi, & Peranannya

Filum Chordata merupakan filum yang paling maju dibandingkan kedelapan filum yang telah kita pelajari sebelumnya. [Silahkan kunjungi poriferacnidaria, platyhelminthes, nemathelminthes, annelida, mollusca,  arthropoda, dan echinodermata]. Untuk sekarang, akan dibahas mengenai ciri-ciri, struktur tubuh, klasifikasi, dan peran Chordata  dalam kehidupan.

a. Ciri-Ciri dan Struktur Tubuh Chordata 

Ciri utama filum Chordata ini adalah adanya korda dorsalis atau notokord (Yunani: notor = punggung; chorde = tali pada alat musik) atau tali punggung, terutama pada fase embrio. Korda dorsalis tersebut terutama berfungsi sebagai penguat atau penyokong tubuh yang fleksibel. Pada hewan-hewan tertentu, korda dorsalis tetap ada dari fase embrio sampai dengan fase dewasa. Sementara itu, pada hewan-hewan lain, korda dorsalis tersebut hanya dijumpai pada fase embrio. Pada saat dewasa, korda dorsalis tidak dimiliki lagi dan digantikan oleh vertebrae (tulang belakang). Jadi, korda dorsalis tidak sama dengan vertebrae. Untuk selanjutnya, hewan-hewan yang memiliki vertebrae dinamakan Vertebrata (hewan bertulang belakang).

Ciri kedua adalah memiliki batang saraf dorsal yang terletak di sebelah dorsal korda dorsalis. Pada Vertebrata, batang saraf itu dilindungi oleh vertebrae. Ujung anterior batang saraf akan membentuk otak. Sementara itu, ciri ketiga adalah memiliki celah insang, terutama pada fase embrio. Pada ikan, celah insang tersebut masih terlihat hingga fase dewasa. Namun, ada pula yang terlihat hanya pada fase embrio atau larva, sedangkan pada fase dewasa celah insang tidak terlihat lagi, contohnya pada reptil, aves dan mammalia. Memiliki ekor di belakang anus merupakan ciri keempat, sedangkan ciri kelima adalah memiliki sistem peredaran darah.

b. Klasifikasi Chordata 

Ada empat subfilum yang termasuk filum Chordata, yaitu

  1. Hemichordata (hemi = setengah), contohnya cacing acorn;
  2. Urochordata (oura = ekor), contohnya Tunicata yang bentuknya mirip hewan spons;
  3. Cephalochordata (cephale = kepala), contohnya ikan lanset (Amphioxus lanceolatus);
  4. Vertebrata, contohnya ikan mas (Cyprinus carpio).

klasifikasi chordata

Beberapa ahli menyebutkan bahwa subfilum Hemichordata merupakan filum tersendiri di luar filum Chordata. Namun, ada juga ahli yang mengatakan karena pada Hemichordata, Urochordata, dan Cephalochordata tidak terdapat kranium (tengkorak), mereka dimasukkan dalam golongan Acrania (a = tanpa; cranium = tengkorak), sedangkan Vertebrata termasuk dalam golongan Craniata.

Subfilum Vertebrata merupakan hewan yang dapat dengan mudah kita lihat sehari-hari. Seperti yang telah dijelaskan di depan, anggota subfilum Vertebrata berbeda dari subfilum-subfilum lainnya karena memiliki tulang belakang yang membentuk sumbu rangka tubuhnya. Struktur yang fleksibel tersebut berkembang mengelilingi notokord dan memperkuat atau menggantikan notokord. Tulang belakang disusun oleh serangkaian tulang silindris (vertebrae) yang saling bersambungan dari ujung ke ujung. Vertebrata memiliki tubuh bersimetri bilateral dengan kepala jelas yang berisi otak. Anggota Vertebrata dibagi menjadi tiga kelas ikan (sering kali disebut juga superkelas Pisces) dan empat kelas Vertebrata darat (superkelas Tetrapoda atau hewan berkaki empat).

Untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai vertebrata, silahkan baca tulisan vertebrata.

c. Peran Chordata bagi Kehidupan 

Pembahasan peran Chordata akan lebih dikhususkan pada vertebrata karena lebih banyak dan mudah kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Ada lima kelas dalam subfilum Vertebrata yang masing-masing anggotanya memiliki peran menguntungkan ataupun merugikan bagi kehidupan.

1) Kelas Pisces

Pada umumnya ikan berguna bagi manusia karena merupakan salah satu bahan makanan berprotein tinggi. Beberapa jenis ikan yang biasa dimakan, antara lain ikan gabus (Ophiocephalus striatus), ikan gurami (Osphronemus gouramy), ikan tongkol (Euthynaus alletteratus), ikan kakap merah (Lutjanus argentimacerlatus), ikan mas (Cyprinus carpio), dan belut (Monopterus albus). Orang-orang di beberapa negara di Asia Timur memakan daging ikan hiu, juga siripnya yang berdaging dijadikan sup. Kulit ikan hiu yang masih bersisik dapat disamak untuk dipakai sebagai bahan ampelas, sedangkan kulit yang sudah tidak bersisik dapat dijadikan bahan pembuat sepatu dan tas. Dari hati ikan hiu, dapat diambil minyak yang mengandung banyak vitamin A. Ikan juga dapat dijadikan hewan peliharaan yang menarik dalam akuarium rumah, contohnya ikan gupi, kuda laut, dan ikan mas koki.

Selain bermanfaat, ikan juga dapat menimbulkan kerugian. Misalnya, ikan hiu dapat merusak jaring yang sedang dipakai untuk menangkap ikan. Ikan hiu juga dapat menyerang dan melukai manusia yang berenang di laut. Demikian juga halnya dengan ikan piranha dari Sungai Amazon, Amerika Selatan, yang sangat rakus memakan daging. Ikan jenis tertentu, misalnya ikan buntal, beracun jika dimakan.

2) Kelas Amphibia

Jenis-jenis tertentu anggota kelas Amphibia memiliki nilai ekonomis. Misalnya genus Rana dapat digunakan sebagai makanan, terutama oleh orang Jepang dan Cina. Selain sebagai makanan, Amphibia juga dapat diambil racunnya, terutama jenis Bufo marmus. Jenis ini mengandung racun bufotalin dan bufotenin yang berkhasiat memperkuat denyut jantung. Jenis Bufo lainnya dan jenis Xenopus dapat digunakan dalam laboratorium untuk uji kehamilan. Di samping itu, di lingkungan-lingkungan yang memiliki genangan air, katak dapat digunakan untuk mengendalikan populasi nyamuk.

3) Kelas Reptilia

Kebanyakan orang takut atau jijik terhadap anggota kelas Reptilia, terutama ular dan buaya. Ular ditakuti karena belitan dan bisanya serta kemampuannya menelan mangsanya yang jauh lebih besar daripada ukuran tubuhnya. Buaya ditakuti karena giginya yang tajam dan juga karena kemampuannya menerkam serta menelan mangsa yang besar. Meskipun begitu, ular dan buaya juga dapat dimanfaatkan manusia, terutama kulitnya, untuk dijadikan tas atau sepatu. Daging, empedu, dan bisa ular dipercaya dapat mengobati berbagai jenis penyakit. Di beberapa daerah, daging dan telur penyu digunakan sebagai makanan.

4) Kelas Aves

Kelas Aves memiliki banyak kegunaan bagi manusia. Misalnya, daging ayam dan telur ayam merupakan bahan makanan sumber protein. Demikian juga dengan daging dan telur itik. Selain itu, bulu itik dan angsa digunakan untuk membuat selimut, bantal, dan kasur. Berbagai jenis burung dipelihara manusia untuk dinikmati suaranya atau warna bulunya yang indah. Burung juga dapat digunakan untuk membasmi hama serangga dan tikus. Meskipun begitu, burung juga dapat merugikan karena memakan biji padi atau biji-biji hasil panen lainnya.

5) Kelas Mammalia

Hewan-hewan kelompok Mammalia dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan sumber protein, misalnya daging sapi, kerbau, domba, kambing, dan babi. Namun, di daerah yang penduduknya mayoritas beragama Islam daging babi tidak digunakan. Di beberapa daerah tertentu, juga digunakan daging kuda dan daging anjing. Selain dagingnya, beberapa Mammalia juga dimanfaatkan air susunya, misalnya air susu sapi, kerbau, kuda, dan kambing. Namun, yang paling umum digunakan adalah air susu sapi.

Kulit sapi, kerbau, kambing dapat disamak untuk dijadikan tas atau sepatu. Bahkan, kulit kerbau dapat dijadikan kerupuk. Rambut domba (wol) dijadikan benang tenun untuk pakaian. Tulang-tulang hewan sembelihan, misalnya sapi, dibuat zat perekat (gelatin) dan tepung. Tepung tulang dapat dicampur dalam pakan ternak atau digunakan sebagai pupuk. Di beberapa daerah, kuda, sapi, kerbau, keledai, unta, dan llama (Gambar di bawah) digunakan sebagai hewan tunggangan atau penarik/ pembawa beban. Di Indonesia, kerbau dan sapi dimanfaatkan untuk membajak sawah. Untuk menjaga rumah, berburu, mencari jejak, menuntun orang buta, dan untuk mencari orang yang tertimbun tanah longsor sering digunakan anjing.

llama contoh Chordata

Selain bermanfaat, Mammalia juga dapat merugikan manusia, antara lain tikus dan celurut. Keduanya sering merusak barang-barang dan mengambil bahan-bahan makanan yang ditimbun manusia. Tikus juga sering merusak tanaman padi di sawah dan merupakan hewan pembawa (vektor) penyakit pes dan leptospirosis. Selain tikus dan celurut, babi hutan juga sering merusak tanaman pangan. Musang sering memangsa ayam peliharaan.

Sumber:

Pujiyanto, Sri.(2012). Menjelajah Dunia BIOLOGI Untuk kelas X SMA dan MA. Platinum: Solo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *