Gangguan Sistem Ekskresi pada Manusia

Sistem ekskresi dapat mengalami berbagai gangguan atau kelainan, baik karena infeksi bakteri, kebiasaan yang buruk, maupun karena gangguan fisiologis. Berbagai Gangguan Sistem Ekskresi itu, antara lain gangguan pada sistem urinaria seperti albuminuria, anuria, batu ginjal, diabetes insipidus, diabetes mellitus, nefritis, sistitis, dan uretritis; gangguan hati dan gangguan kulit.

A. Gangguan Sistem Ekskresi Urinaria

Gangguan sistem ekskresi pertama yang akan kita bahas adalah pada sistem urinaria. Kebanyakan gangguan ini bersumber pada ginjal.

gangguan sistem ekskresi urinaria

1. Albuminuria

Albuminuria adalah penyakit yang terjadi akibat ginjal tidak dapat melakukan proses penyaringan, khususnya penyaringan protein (albumin). Protein (albumin) yang tidak dapat disaring, akan keluar bersama urine. Albuminuria disebabkan oleh kerusakan pada glomerulus.

b. Anuria

Anuria adalah kelainan yang ditandai dengan tidak terbentuknya urine. Kelainan tersebut disebabkan oleh adanya kerusakan pada glomerulus sehingga ginjal tidak mampu memfiltrasi darah. Akibatnya, tidak ada urine yang dihasilkan.

c. Batu Ginjal

Batu ginjal adalah penyakit karena adanya pengendapan pada rongga ginjal atau kandung kemih. Batu ginjal (Gambar 7.8) terbentuk dari pengendapan garam-garam mineral, misalnya kalsium fosfat, di dalam ginjal atau di saluran urine (ureter dan uretra). Adanya batu di dalam saluran urine menyebabkan aliran urine menjadi terhambat. Hal itu tentu menimbulkan rasa sakit pada saat buang air kecil. Terbentuknya batu ginjal dapat dipicu oleh beberapa kebiasaan yang kurang baik, seperti sering menahan buang air kecil dan kurang minum. Selain itu, kesalahan metabolisme, khususnya metabolisme kalsium sehingga kalsium terakumulasi dan mengendap, juga dapat memicu terbentuknya batu ginjal.

Batu ginjal dapat dipecahkan dengan cara pengobatan. Namun, jika cara itu gagal, pengeluaran batu ginjal dengan cara pembedahan merupakan cara yang umum dilakukan.

d. Diabetes Insipidus

Diabetes insipidus adalah penyakit yang ditandai produksi urine berjumlah banyak dan encer, yang disertai dengan rasa haus. Seseorang yang menderita diabetes insipidus menghasilkan urine yang sangat banyak dan encer (hipotonis). Akibatnya, penderita menjadi sering buang air kecil, mengalami kehausan secara terus-menerus, dan berisiko mengalami dehidrasi serta ketidakseimbangan ion-ion dalam tubuh. Kondisi seperti itu dapat muncul karena tubuh penderita tidak dapat membuat atau melepaskan hormon antjdiuretik (ADH). Akibatnya, dinding tubulus konvolusi distal dan saluran pengumpul menjadi tidak permeabel terhadap air sehingga air yang direabsorpsi dari bagian-bagian nefron tersebut sangat sedikit dan air tetap ada di dalam urine.

Gangguan ini juga dapat terjadi pada orang-orang yang mampu melepaskan cukup ADH, tetapi sel-sel dinding tubulus konvolusi distal dan saluran pengumpul tidak mampu meresponsnya. Hal itu mungkin terjadi karena mereka tidak memiliki reseptor (berupa protein) yang tepat dalam membran sel dinding tubulus. Jika seseorang tidak memiliki gen yang membawa kode untuk protein tersebut, reseptor tidak akan ada. Biasanya hal tersebut bersifat menurun. Sebagian besar kasus diabetes insipidus disebabkan oleh mutasi gen terpaut kromosom X. Oleh karena itu, diabetes insipidus karena keturunan lebih banyak diderita kaum laki-laki daripada kaum perempuan.

Diabetes insipidus juga muncul jika mekanisme tanggapan terhadap ADH dirusak oleh penggunaan obat-obatan tertentu.

e. Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus merupakan gangguan yang ditandai urine penderita mengandung glukosa. Hal itu disebabkan tubuh penderita kekurangan hormon insulin sehingga proses perombakan glukosa menjadi glikogen terganggu atau berkurang. Akibatnya, kadar glukosa dalam darah meningkat dan tidak dapat direabsorpsi seluruhnya. Glukosa yang tidak dapat direabsorpsi diekskresi bersama urine.

Diabetes mellitus, dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

  • Diabetes mellitus tipe 1 (dimulai pada saat usia remaja), ditandai oleh kurangnva sekresi insulin akibat sel β pankreas tidak memproduksi atau sangat sedikit memproduksi insulin sehingga diperlukan insulin eksogen (insulin produk farmasi yang disuntikkan) untuk bertahan hidup. Jumlah penderita diabetes mellitus tipe 1 sekitar 10% dari semua kasus diabetes mellitus.
  • Diabetes mellitus tipe 2 (dimulai pada saat usia dewasa), sekresi insulin mungkin normal atau bahkan meningkat, tetapi terjadi penurunan kepekaan sel sasaran insulin, seperti sel otot rangka dan sel hati. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor genetik dan gaya hidup. Sekitar 90% pengidap diabetes mellitus tipe 2 mengalami obesitas.

f. Nefritis (Radang Ginjal)

Nefritis adalah suatu radang pada glomeruli yang disebabkan oleh infeksi bakteri (Streptococcus sp.). Radang tersebut menyebabkan glomeruli tidak dapat menyaring darah sehingga bahan-bahan buangan tetap ada di dalam darah. Rusaknya glomeruli menyebabkan plasma protein masuk ke dalam filtrat dan muncul di urine. Peningkatan kadar bahan-bahan buangan dalam darah menimbulkan uremia (peningkatan kadar urea dalam darah). Uremia menyebabkan penyerapan air terganggu sehingga air akan tertimbun dan menimbulkan pembengkakan, terutama di pergelangan kaki. Pembengkakan akibat penimbunan air pada organ tubuh itu dinamakan edema (oedema).

g. Sistitis dan Uretritis

Sistitis merupakan radang atau infeksi pada kantong kemih, sedangkan uretritis merupakan radang atau infeksi pada uretra. Baik sistitis maupun uretritis, keduanya dapat menyebabkan radang ginjal (nefritis). Uretritis dapat disebabkan oleh penyakit gonorea. Karena adanya perbedaan anatomi alat kelamin, laki-laki lebih sedikit menderita infeksi dibandingkan perempuan. Hal itu disebabkan pada perempuan bakteri-bakteri dari feses lebih mudah masuk ke uretra.

h. Glikosuria (glukosuria)

Glikosuria (glukosuria) adalah ekskresi glukosa ke dalam urine sehingga menyebabkan dehidrasi karena banyak air yang akan terekskresi ke dalam urine.

i. Poliuria

Poliuria adalah kelainan peningkatan frekuensi buang air kecil sebagai akibat dari kelebihan produksi air seni. Pada umumnya disebabkan oleh polidipsia (rasa haus yang tidak berkesudahan) dan mengonsumsi cairan yang mengandung kafein, alkohol, atau bahan (obat-obatan) yang bersifat diuretik (mempercepat pembentukan urine).

j. Uremia

Uremia adalah keadaan toksik saat darah mengandung banyak urea karena kegagalan fungsi ginjal dalam membuang urea keluar dari tubuh.

B. Gangguan Hati

Gangguan sistem ekskresi pada hati yang akan dibahas ada tiga, yaitu penyakit hati, sirosis hati, dan hemokromatosis.

 

  1. Penyakit hati (liver), paling sering disebabkan oleh infeksi virus, Amoeba penyebab disentri, cacing, plasmodium penyebab malaria, dan Toxoplasma sp.
  2. Sirosis hati (cirrhosis) adalah berubahnya sel-sel hati menjadi jaringan ikat fibrosa, sehingga kehilangan fungsinya. Sirosis dapat disebabkan oleh minuman keras, serta hepatitis B dan hepatitis C.Tahapan kerusakan hati pada pembahasan gangguan sistem eksresi
  3. Hemokromatosis adalah kelainan secara genetik yang menyebabkan tubuh terlalu banyak menyerap zat besi dari makanan sehingga zat besi banyak tersimpan di dalam organ-organ tertentu, seperti hati, jantung, dan pankreas.

C. Gangguan Kulit

Gangguan sistem ekskresi pada kulit cukup banyak, berikut beberapa di antaranya:

  1. Biang keringat (miliaria) adalah ruam berbentuk bintik-bintik merah yang gatal, akibat tersumbatnya pori-pori kelenjar keringat yang dapat disebabkan oleh sel-sel kulit mati atau bakteri, biasanya muncul saat udara panas dan lembap.
  2. Hiperhidrosis adalah keluar keringat berlebihan yang terjadi pada seluruh badan atau bagian tubuh tertentu (misalnya, telapak tangan atau kaki). Hiperhidrosis disebabkan oleh suatu penyakit atau faktor psikis.
  3. Anhidrosis adalah kulit tidak dapat berkeringat. Anhidrosis disebabkan oleh Iuka bakar, penyakit, pengaruh obat-obatan, atau kelenjar keringat yang tidak mampu berfungsi lagi.
  4. Bromhidrosis keringat berbau atau bau badan, bisa disebabkan oleh bakteri atau kelenjar keringat apokrin bekerja lebih aktif.
  5. Eksem (dermatitis) adalah radang kulit yang hebat, terasa gatal, kulit dapat melepuh atau bergelembung kecil (vesikel) yang akhirnya pecah mengeluarkan cairan. Eksem disebabkan oleh faktor keturunan, stres dan emosi, atau kontak dengan senyawa alergenik (misalnya, logam, zat pewarna, kosmetik, parfum, debu, dan sabun).
  6. Kadas atau kurap adalah bercak-bercak kemerahan pada kulit, terkadang berbentuk bundar dan jernih di bagian tengahnya, kadas terjadi akibat infeksi jamur.
  7. Kudis adalah gatal akibat infeksi tungau dan kutu air Athelete’s foot adalah infeksi jamur di sela-sela jari kaki.
  8. Vitiligo adalah gangguan pigmentasi sehingga kulit kehilangan melanin, tampak bercak-bercak putih yang bisa melebar pada kulit.
  9. Jerawat adalah kulit yang meradang, pori-pori tersumbat, terkadang menimbulkan kantung nanah. Jerawat terjadi akibat infeksi bakteri, perubahan hormonal, atau kotoran.
  10. Pruvitus kutanea adalah gatal yang dipicu oleh iritasi saraf sensoris perifer, dapat terjadi pada penderita kencing manis, penyakit kelenjar tiroid dan hati.
  11. Kalvus adalah penyakit mata ikan yang disebabkan oleh virus atau bakteri, dan gesekan secara terus menerus seperti pemakaian sepatu yang terlalu sempit.

Demikian tulisan mengenai Gangguan Sistem Ekskresi. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Sumber :

Irnaningtyas.(2014).Biologi untuk SMA/MA Kelas XI Kelompok Peminatan Matematika dan Ilmu Alam. Erlangga:Jakarta.

Pujiyanto, Sri.(2012). Menjelajah Dunia BIOLOGI 2 Untuk kelas XI SMA dan MA. Platinum: Solo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *