Kelompok Hewan Vertebrata (Hewan Bertulang Belakang)

Hewan Vertebrata atau hewan bertulang belakang terbagi menjadi tujuh kelas, yaitu tiga kelas ikan (Agnatha, Chondrichthyes, dan Osteichthyes) dan empat kelas vertebrata darat (Amphibia, Reptilia, Aves, dan Mammalia). Ketiga kelas ikan ini dikenal juga superkelas pisces, sedangkan vertebrata darat dikenal sebagai superkelas tetrapoda (berkaki empat).

1) Superkelas Pisces | Hewan Vertebrata

Berdasarkan ada tidaknya rahang dan jenis tulang penyusun tubuhnya, superkelas Pisces terdiri atas tiga kelas, yaitu Agnatha, Chondrichthyes, dan Osteichthyes. Chondrichthyes dan Osteichthyes termasuk kelompok Gnathostomata (gnatho = rahang; stoma = mulut).

a) Kelas Agnatha

Agnatha merupakan anggota hewan Vertebrata yang paling primitif. Namanya berasal dari bahasa Yunani, yaitu a = tanpa dan gnathos = rahang. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh namanya, Agnatha merupakan ikan seperti belut yang bermulut melingkar, tetapi tidak memiliki rahang. Ikan tersebut dapat mencapai panjang 1 m. Tubuhnya disokong oleh rangka berkartilago (tulang rawan). Kulitnya yang lembut tidak memiliki sisik. Karena tidak memiliki sirip yang berpasangan, Agnatha bergerak dengan gerakan undulasi.

petromyzon marinus, contoh Hewan Vertebrata

Contoh anggota Agnatha adalah ikan lamprey air tawar (Lampreta sp. dan Estosphenus japonicus). Sebagian besar lamprey hidup di air tawar. Beberapa jenis menghabiskan kehidupan dewasanya di laut dan kembali ke air tawar untuk bereproduksi. Setelah bertelur mereka akan mati. Banyak jenis lamprey dewasa (contohnya, lamprey laut Petromyzon sp.) merupakan ektoparasit pada ikan-ikan lain. Lamprey dewasa memiliki cakram pengisap melingkar di sekeliling mulutnya, yang terletak di bagian ventral ujung anterior tubuhnya. Di dalam mulutnya terdapat gigi-gigi seperti parut. Dengan menggunakan cakram pengisap tersebut, lamprey melekat pada ikan lain, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. (Lihat Gambar di atas). Kemudian, lamprey menyuntikkan zat antikoagulan ke dalam tubuh inangnya dan mengisap darah serta jaringan tubuh inangnya.

b) Kelas Chondrichthyes

Anggota kelas Chondrichthyes memiliki rangka yang tersusun atas tulang rawan (kartilago) dengan sedikit penulangan (kalsifikasi), contohnya ikan hiu, ikan pari, dan belut listrik. Kulitnya terbuat dari ribuan susunan struktur seperti gigi yang dikenal sebagai sisik plakoid. Susunan seperti itu membuat kulit hiu bertekstur seperti ampelas. Mulutnya terdapat di sebelah ventral kepala yang dilengkapi dengan gigi-gigi yang tajam. Jika salah satu gigi rusak, gigi itu akan tanggal dan gigi berikut di belakangnya bergeser ke depan untuk menggantikannya. Sebagian besar hiu merupakan karnivor dan memiliki indra penciuman yang sangat tajam. Hiu juga sangat peka terhadap getaran berfrekuensi rendah.

Umumnya Chondrichthyes hidup di laut. Insangnya berupa 5—7 pasang celah insang tanpa operkulum (tutup insang). Karena tidak memiliki gelembung renang, hiu harus terus berenang, sekalipun dalam keadaan tidur, agar dapat terus mengapung. Dengan terus berenang, Hewan Vertebrata ini juga dapat memperoleh oksigen untuk pernapasannya karena air akan terus masuk ke celah insangnya. Ekor hiu bertipe heteroserkal. Siripnya merupakan struktur berdaging. Pada hiu jantan, di bagian tepi dalam dua sirip pelvisnya terdapat klasper (Gambar di bawah), yaitu alat kopulasi yang akan dimasukkan ke dalam oviduk hiu betina melalui kloaka untuk pembuahan internal.

hiu jantan dan betina, contoh Hewan Vertebrata

Hiu ada yang merupakan organisme ovipar (contohnya, hiu anjing bertutul) dan ada pula yang merupakan organisme vivipar (contohnya, hiu martil). Pada hiu ovipar, telur yang telah dibuahi dilindungi oleh suatu kantong telur berzat tanduk berbentuk persegi panjang sebagai tempat berkembangnya anak hiu. Pada setiap sudut kantong itu terdapat sulur yang berfungsi sebagai jangkar untuk menambatkan diri pada tumbuhan laut. Kantong itu dinamakan “dompet putri duyung” yang biasa ditemukan orang di pantai-pantai. Hiu anjing tutul (Scyliorhinus sp.), hiu gergaji (Pristis perrottei), dan ikan pari hantu (Manta birostris) merupakan contoh anggota kelas Chondrichthyes.

c) Kelas Osteichthyes

Osteichthyes merupakan kelompok ikan bertulang sejati (Yunani: osteon berarti tulang). Mulutnya terletak di ujung kepala dan insang tertutup operkulum (tutup insang). Ikan-ikan yang hidup di tempat berlumpur, contohnya ikan lele (Clarias batrachus), memiliki organ pernapasan tambahan di dekat insangnya. Organ tersebut dinamakan labirin yang terdiri atas kantong-kantong dengan banyak pembuluh darah. Labirin berfungsi memperluas daerah pertukaran gas. Ikan jenis tertentu, yaitu ikan paru-paru (Ceratodes sp. dan Protopterus sp.), selain memiliki insang juga memiliki paru-paru untuk bernapas (Gambar di bawah). Kelompok ikan memiliki jantung beruang dua.

ikan paru-paru, contoh Hewan Vertebrata

Sirip merupakan struktur bermembran dengan jari-jari bertulang. Sebagian besar Osteichthyes memiliki dua pasang sirip dan ekornya bertipe difiserkal. Osteichthyes dapat ditemukan di air tawar dan air laut. Tubuhnya dapat mengapung di dalam air karena memiliki gelembung renang. Pada ikan laut dalam jenis tertentu, gelembung renang berubah menjadi organ penyimpan lemak.

Sebagian besar ikan memiliki indra pembau dan indra penglihat yang berkembang baik. Semua jenis ikan memiliki indra yang tidak dimiliki oleh hewan darat, yaitu gurat sisi, yang biasanya terdapat di sepanjang Sisi tubuhnya dari kepala hingga ekor. Gurat Sisi membantu ikan untuk berenang, mengenali kedalaman, dan mendengar dengan cara mengenali gelombang tekanan serta gelombang bunyi.

Pembuahan eksternal merupakan pembuahan yang umumnya dilakukan oleh sebagian besar jenis ikan, kecuali ikan gupi dan ikan ekor pedang yang melakukan pembuahan internal. Beberapa contoh ikan adalah ikan gabus (Ophiocephalus striatus), ikan mas (Cyprinus carpio), ikan tongkol (Euthynaus alletteratus), dan belut (Monopterus albus).

2) Superkelas Tetrapoda | Hewan Vertebrata

Anggota superkelas Tetrapoda adalah hewan Vertebrata darat yang (umumnya) berkaki empat. Ada empat kelas yang termasuk superkelas ini, yaitu Amphibia, Reptilia, Aves, dan Mammalia.

a) Kelas Amphibia

Istilah Amphibia berasal dari kata amphi yang berarti dua, rangkap; dan bios yang berarti kehidupan. Hal itu disebabkan hewan-hewan yang ada dalam kelompok Amphibia (yang meliputi katak, kodok, dan salamander) hidup dengan dua bentuk kehidupan, mula-mula di air tawar, kemudian dilanjutkan di darat. Fase kehidupan di dalam air tawar berlangsung sebelum alat reproduksinya masak, yaitu pada saat fase larva. Pada umumnya hewan dewasa memiliki dua pasang kaki yang berkembang sempurna.

Amphibia mudah dikenali melalui kulitnya yang licin, lembut, dan lembap. Kulit yang lembap itu digunakan sebagai alat pernapasan tambahan. Pada saat fase larva, mereka bernapas melalui insang. Namun, sebagian besar Amphibia, ketika dewasa bernapas melalui paru-paru dan kulit. Jantungnya beruang tiga, terdiri atas dua serambi (atrium) dan satu bilik (ventrikel). Anggota Amphibia meletakkan telur-telurnya di dalam air atau di tempat-tempat yang sangat lembap. Pembuahannya terjadi secara eksternal. Dalam tahap perkembangannya, sebagian Amphibia mengalami metamorfosis. Habitat atau tempat hidupnya bermacam-macam, dari daerah kering hingga daerah berawa-rawa.
Kelas Amphibia terbagi menjadi tiga ordo, yaitu Gymnophiona (Apoda), Caudata (Urodela), dan Anura (Salientia). Ordo Gymnophiona terdiri atas Caecilia, ordo Caudata terdiri atas salamander, sedangkan ordo Anura terdiri atas katak (Rana) dan kodok (Bufo).

Contoh Amphibi | Hewan Vertebrata

b) Kelas Reptilia

Istilah Reptilia berasal dari bahasa Latin, repere yang berarti merayap. Hampir semua Reptilia hidup di darat. Kulit tubuhnya ditutupi oleh kulit bersisik yang kering dan impermeabel. Umumnya Hewan Vertebrata ini memiliki empat kaki, kecuali golongan ular kakinya mereduksi atau tidak ada sama sekali. Baik hewan muda ataupun hewan dewasa bernapas dengan paru-paru. Jantungnya memiliki dua serambi dan dua bilik, tetapi sekat di antara dua biliknya belum sempurna sehingga darah yang kaya karbon dioksida bercampur dengan darah yang kaya oksigen. Reptilia termasuk hewan berdarah dingin (poikiloterm). Artinya, suhu tubuh reptilia berfluktuasi sesuai dengan suhu lingkungan. Pembuahan pada Reptilia terjadi di dalam tubuh (internal). Telur-telur yang telah dibuahi dibungkus oleh cangkang dan umumnya dierami. Dalam tahap perkembangannya, tidak ada proses metamorfosis.

Hewan-hewan reptil dapat diklasifikasikan ke dalam empat ordo, yaitu Squamata, Chelonia, Crocodilia, dan Rhynchochephalia. Contoh anggota ordo Squamata adalah cecak, tokek, bunglon, iguana, kadal, dan berbagai jenis ular. Ordo Chelonia beranggota kan kura-kura dan reptil yang sejenis dengannya, seperti penyu dan labi-labi. Anggota ordo Crocodilia meliputi buaya, aligator, kaiman, dan gavial. Ordo Rhynchochepalia beranggotakan reptil yang disebut dengan tuatara.

c) Kelas Aves

Dalam bahasa Latin, aves berarti burung. Burung dideskripsikan sebagai ‘reptil berbulu yang umumnya memiliki kemampuan terbang’. Tubuh burung ditutupi bulu-bulu sebagai pengganti sisik. Meskipun begitu, Hewan Vertebrata ini masih memiliki sisa-sisa sisik yang terdapat pada bagian kaki dan kuku. Selain sebagai pelindung tubuh terhadap cuaca yang tidak cocok, bulu yang kedap air itu juga berfungsi untuk terbang. Bulu itulah yang membedakan burung dari hewan Vertebrata lainnya. Menurut susunan anatominya, bulu dapat dibedakan menjadi plumae, plumulae, dan filoplumae.

Burung memiliki empat (dua pasang) alat gerak, tetapi alat gerak depan mengalami modifikasi menjadi sayap. Alat gerak belakang atau kaki burung memiliki empat jari yang dilengkapi dengan cakar, yang membantu burung saat bertengger, mengais biji, atau menangkap mangsa, bergantung pada spesiesnya. Tubuh burung ditopang oleh tulang-tulang yang kuat, tetapi ringan. Tulang dadanya menonjol dan merupakan tempat perlekatan otot-otot untuk terbang.

Burung tidak memiliki gigi dan rahang yang kuat. Rahang atas dan rahang bawah mengalami penonjolan menjadi paruh yang tersusun atas zat tanduk. Paruh tersebut digunakan untuk makan dengan bermacam-macam cara.

Burung merupakan hewan Vertebrata homoioterm. Itu artinya suhu tubuh burung selalu konstan dan tidak dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Burung memiliki suhu tubuh yang tinggi, yaitu 40—45oC. Di dalam tubuh burung terdapat pundi-pundi udara (saccus pneumaticus) yang berfungsi (1) membantu pernapasan, terutama pada waktu terbang, (2) membantu mempertahankan suhu tubuh, dan (3) membantu memperkeras suara. [Silahkan baca juga: sistem pernapasan pada burung]

Fertilisasi pada burung terjadi secara internal. Telur-telurnya dilindungi oleh cangkang yang keras. Telur-telur yang telah dibuahi, dierami oleh induk betinanya di dalam sarang.

Berdasarkan kemampuan terbangnya, kelas Aves dibagi menjadi dua superordo, yaitu Palaeognathae dan Neognathae. Superordo Palaeognathae merupakan kelompok burung yang tidak dapat terbang, contohnya burung unta (Struthio camelus), burung kiwi (Apteryx sp.), dan burung puyuh (Coturnix coturnix) (Gambar di bawah). Adapun superordo Neognathae merupakan kelompok burung yang dapat terbang, contohnya burung hantu (Bubo sp.) dan burung merpati (Columba livia).

burung unta (Struthio camelus), burung kiwi (Apteryx sp.), dan burung puyuh (Coturnix coturnix), contoh Hewan Vertebrata

d) Kelas Mammalia

Ciri khas kelas Mammalia adalah memiliki rambut yang menutupi seluruh tubuhnya. Di dalam rongga tubuhnya terdapat otot diafragma yang memisahkan rongga dada dengan rongga perut. Tubuh Mammalia memiliki suhu tubuh yang relatif tinggi dan stabil (homoioterm). Fertilisasi pada Mammalia terjadi secara internal.

Semua Mammalia bernapas menggunakan paru-paru. Kata Mammalia berasal dari bahasa Latin mammae yang berarti payudara. Hal itu disebabkan Mammalia betina memiliki kelenjar susu (glandula mammae) penghasil air susu yang diberikan kepada anak-anak mereka sebagai minuman pertama setelah lahir. Kelenjar susu merupakan modifikasi kelenjar-kelenjar kulit. Kelas Mammalia dibagi menjadi tiga subkelas, yaitu Monotremata, Marsupialia, dan Eutheria.

Subkelas Monotremata merupakan satu-satunya Mammalia yang memiliki ciri-ciri mirip dengan Reptilia, yaitu dalam hal rangka tubuh dan kebiasaannya bertelur. Monotremata juga merupakan satu-satunya anggota Mammalia yang tidak memiliki daun telinga dan gigi, tetapi memiliki kloaka. Monotremata betina tidak memiliki uterus. Contoh anggota Monotremata adalah platipus (Ornithorhynchus anatinus) dan landak semut (Tachyglossus sp.) (Gambar di bawah).

platipus (Ornithorhynchus anatinus) dan landak semut (Tachyglossus sp.), contoh Hewan Vertebrata

Subkelas Marsupialia merupakan kelompok hewan-hewan berkantong (marsupium kantong). Semua bayi Marsupialia lahir dalam tahap immatur dan berpindah ke kantong pada tubuh induk. Sewaktu dilahirkan, embrio Marsupialia hanya berupa segumpal daging tak berbentuk yang panjangnya lebih kurang 1 cm, buta, dan tanpa daun telinga. Selanjutnya, bayi mengalami perkembangan di dalam kantong tersebut. Kelompok ini merupakan Mammalia yang tidak berplasenta. Contoh anggota Marsupialia adalah kanguru (Megaleia dan Macropus), kanguru pohon (Dendrolagus), walabi ( Wallabia), kuskus (Phalanger), dan koala (Phascolarctos).

Subkelas Eutheria (Mammalia sejati atau Mammalia berplasenta) tidak memiliki kantong. Perkembangan janin berlangsung di dalam uterus yang dilengkapi dengan korion dan plasenta. Tikus rumah (Rattus rattus), kelinci (Lepus nigricollis), lumba-lumba (Delphinus delphi), harimau (Felis tigris), dan manusia (Homo sapiens) adalah beberapa contoh anggota subkelas Eutheria.

Demikian tulisan mengenai hewan vertebrata. Semoga bermanfaat.

Sumber:

Pujiyanto, Sri.(2012). Menjelajah Dunia BIOLOGI Untuk kelas X SMA dan MA. Platinum: Solo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *