Isi Buku The Origin of Species

Dua gagasan utama pada bukunya Darwin, The Origin of Species, adalah penurunan dengan modifikasi dan juga seleksi alam. 

Isi Buku The Origin of Species

A. Penurunan dengan Modifikasi

Dalam edisi pertama The Origin of Species, Darwin tidak pernah menggunakan kata evolusi (walaupun kata terakhir dalam buku tersebut adalah ‘evolved‘). la lebih banyak membahas penurunan dengan modifikasi, frasa yang merangkum pandangannya tentang kehidupan. Darwin menyadari kesatuan dalam kehidupan, yang dinyatakannya sebagai akibat dari semua organisme yang diturunkan dari satu nenek moyang yang hidup di masa lalu. la juga berpikir bahwa karena keturunan dari organisme nenek moyang tersebut hidup di dalam berbagai habitat selama jutaan tahun, mereka telah mengakumulasikan berbagai macam modifikasi, atau adaptasi, yang membuat mereka sesuai dengan cara hidup spesifik. Darwin menalar bahwa dalam jangka waktu yang amat panjang, penurunan dengan modifikasi pada akhirnya menyebabkan tingginya keanekaragaman makhluk hidup yang kita lihat sekarang.

Gagasan Darwin, pada penjelasan The Origin of Species
Gambar. “Kupikir …” dalam sketsa tahun 1837 ini , Darwin menuangkan gagasannya mengeni pola percabangan evolusi

Darwin memandang sejarah kehidupan sebagai sebuah pohon, dengan banyak cabang dari batang bersama menuju ke ujung-ujung ranting termuda (gambar di atas). Ujung ranting-ranting tersebut mencerminkan keanekaragaman organisme yang ada saat ini. Setiap percabangan pada pohon mencerminkan nenek moyang dari semua garis evolusi yang kemudian bercabang dari titik tersebut. Seperti yang ditunjukkan titik tersebut. Seperti yang ditunjukkan pada diagram pohon di bawah ini, spesies yang berkerabat dekat, misalnya gajah Asia dan gajah Afrika, sangat mirip sebab mereka berada pada garis keturunan yang sama sebelum baru- baru ini memisah dari nenek moyang bersama mereka. Perhatikanlah bahwa tujuh garis keturunan gajah yang berkerabat telah punah dalam 30 juta tahun terakhir. Akibatnya, tak ada spesies yang masih hidup yang mengisi kekosongan di antara gajah dan kerabat terdekat mereka saat ini, lembu laut (manatee) dan hiraks. Pada kenyataannya, banyak cabang evolusi, bahkan beberapa cabang besar, merupakan jalan buntu: Saintis memperkirakan bahwa lebih dari 99% spesies yang pernah ada sekarang telah punah.

Pohon evolusi gajah, pada penjelasan The Origin of Species
Gambar. Penurunan dengan modifikasi. Pohon evolusi gajah dan kerabatnya ini didasarkan pada fosil (anatomi , urutan pada strata, dan distribusi geografikanya). Perhatikan bahwa sebagian besar cabang garis keturunan berakhir pada kepunahan. (Garis waktu tidak menurut skala).

Ketika mengklasifikasikan makhluk hidup, Linnaeus menyadari bahwa ada kemiripan di sejumlah organisme dibanding organsime lainnya. Namun ia tidak mengaitkan hal tersebut dengan evolusi.

B. Seleksi Buatan, Seleksi Alam, dan Adaptasi

Dalam The Origin of Species, Darwin mengajukan sebuah mekanisme, seleksi alam, untuk menjelaskan pola-pola evolusi yang teramati. la menyusun argumennya secara hati-hati, untuk meyakinkan pembaca yang paling skeptis sekali pun. Pertama-tama ia mendiskusikan contoh-contoh umum dari tumbuhan dan hewan peliharaan hasil pembiakan selektif. Manusia telah memodifikasi spesies lain selama beberapa generasi dengan cara menyeleksi dan membiakkan individu-individu yang memiliki sifat-sifat yang diinginkan (proses yang disebut seleksi buatan (artificial selection)) (Gambar di bawah).

Seleksi buatan pada spesies mustar liar (pada penjelasan The Origin of Species)
Gambar. Seleksi Buatan. Semua sayur-sayuran yang berbeda telah diseleksi dari satu spesies mustar liar. Dengan menyeleksi variasi pada bagian tumbuhan yangberbeda, para pembiak tanaman telah memperoleh hasil yang tersebar di atas.

Akibat dari seleksi buatan, tanaman pangan dan hewan yang dibiakkan sebagai ternak atau hewan peliharaan seringkali amat berbeda dari nenek moyangnya di alam bebas. Darwin kemudian menjabarkan empat pengamatan terhadap alam yang kemudian digunakannya untuk menarik dua kesimpulan:

  • Pengamatan #1: Anggota populasi seringkali sangat bervariasi dalam sifat-sifatnya (di bawah).

    Variasi bekicot (variasi dalam populasi), pada penjelasan The Origin of Species
    Gambar. Variasi dalam populasi. Mengacu bahwa variasi warna dan pola belang pada populasi bekicot ini diwariskan, maka hal ini dapat bertindak sebagai seleksi alam.
  • Pengamatan #2: Sifat-sifat diwariskan dari induk atau orangtua kepada keturunannya.
  • Pengamatan #3: Semua spesies mampu menghasilkan keturunan lebih banyak daripada yang dapat didukung oleh alam (gambar di bawah).

    Awan spora, pada pembahasan The Origin of Species
    Gambar. Overproduksi keturunan. Satu fungsi puffball dapat memproduksi jutaan keturunan. Jika semua anakan dan keturunannya sintas sampai dewasa, mereka akan menutupi permukaan tanah di sekitarnya.
  • Pengamatan #4: Akibat kekurangan makanan atau sumber daya lain, banyak keturunan tersebut yang tidak sintas.
  • Kesimpulan #1: Individu-individu dengan sifat warisan yang memberi mereka kemungkinan lebih besar untuk sintas dan bereproduksi pada lingkungan tertentu cenderung memiliki lebih banyak keturunan daripada individu-individu lain.
  • Kesimpulan #2: Ketidakseragaman kemampuan individu-individu untuk sintas dan bereproduksi mengarah pada akumulasi sifat-sifat yang menguntungkan dalam populasi selama berapa generasi

Darwin menyadari hubungan penting antara seleksi alam dan kemampuan organisme untuk ‘menghasilkan keturunan secara berlebih’. la mulai menyadari hubungan ini setelah membaca sebuah esai oleh ekonom Thomas Malthus, yang menyatakan bahwa banyak penderitaan manusia (penyakit, kelaparan, dan perang) adalah konsekuensi yang tak terhindarkan dari potensi populasi manusia untuk meningkat lebih cepat daripada ketersediaan makanan dan sumber daya lain. Darwin menyadari bahwa kapasitas untuk menghasilkan keturunan secara berlebih (overreproduksi) merupakan karakteristik semua spesies. Dari banyak telur yang dihasilkan, anak yang dilahirkan, dan biji yang disebarkan, hanya sekian persen yang menuntaskan perkembangan mereka dan menghasilkan keturunan sendiri. Sisanya dimakan, mati kelaparan, mati sakit, tidak kawin, atau tidak mampu bertoleransi terhadap kondisi fisik lingkungan seperti kadar garam atau suhu.

Sifat-sifat suatu organisme dapat memengaruhi tidak hanya kinerjanya, namun juga sebaik apa keturunannya menghadapi tantangan lingkungan. Misalnya, suatu organisme mungkin memiliki satu sifat warisan yang memberi keuntungan bagi keturunannya untuk meloloskan diri dari predator, memperoleh makanan, atau bertoleransi terhadap kondisi fisik. Sewaktu keuntungan-keuntungan semacam itu meningkatkan jumlah keturunan yang sintas dan bereproduksi, sifat-sifat yang menguntungkan tersebut akan lebih mungkin muncul dengan frekuensi yang lebih tinggi pada generasi berikutnya. Oleh karena itu, seiring waktu, seleksi alam yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti predator, kekurangan makanan, atau kondisi fisik yang tak bersahabat dapat meningkatkan persentase sifat- sifat yang menguntungkan di dalam populasi.

Seberapa cepat perubahan semacam itu terjadi? Darwin menalar bahwa jika seleksi buatan dapat menyebabkan perubahan dramatis dalam periode waktu yang relatif singkat, maka seleksi alam dapat mengakibatkan modifikasi penting dari spesies lebih dari ratusan generasi. Bahkan jika keuntungan dari beberapa sifat yang diwariskan lebih kecil dari sifat yang lain, variasi-variasi yang menguntungkan akan terakumulasi secara bertahap di dalam populasi, sementara variasi yang kurang menguntungkan akan berkurang. Seiring waktu, proses ini akan meningkatkan frekuensi individu-individu dengan adaptasi-adaptasi yang menguntungkan sehingga meningkatkan kecocokan antara organisme-organisme dan lingkungannya.

Seleksi Alam: Rangkuman

Marilah kita sekarang merangkum gagasan-gagasan utama seleksi alam (pada The Origin of Species):

  1. Seleksi alam adalah suatu proses yang terjadi ketika individu-individu yang memiliki karakteristik warisan tertentu sintas dan bereproduksi dengan laju yang tinggi daripada individu-individu lain.
  2. Seiring waktu, seleksi alam dapat meningkatkan kecocokan antara organisme dan lingkungannya (gambar di bawah).

    kamuflase sebagai contoh dari adaptasi evolusi, pada penjelasan The Origin of Species
    Gambar. Kamuflase sebagai contoh dari adaptasi evolusi. Spesies-spesies serangga yang berkerabat, disebut belalang mantid, memiliki berbagai bentuk dan warna yang berevolusi di berbagai lingkungan yang berbeda.
  3. Jika lingkungan berubah, atau individu berpindah ke lingkungan baru, seleksi alam dapat dilihat dari adaptasi terhadap kondisi baru tersebut, terkadang memunculkan spesies baru dalam proses tersebut.

Satu poin yang samar namun penting adalah seleksi alam berlangsung melalui interaksi antara organisme individual dan lingkungannya, namun individu tidak berevolusi. Sebenarnya, populasi-lah yang berevolusi seiring waktu.

Poin kunci kedua adalah seleksi alam dapat memperbanyak atau mengurangi sifat-sifat warisan saja (sifat yang diwariskan dari organisme kepada keturunannya). Walaupun suatu organisme mungkin termodifikasi semasa hidupnya, dan karakteristik yang diperoleh dapat membantu organisme tersebut di lingkungannya, hanya ada sedikit bukti bahwa sifat yang diperoleh semacam itu diwariskan pada keturunan.

Ketiga, ingatlah bahwa faktor lingkungan bervariasi menurut tempat dan waktu. Sifat yang menguntungkan di suatu tempat atau waktu mungkin tak berguna (atau bahkan mematikan) di tempat atau waktu lain. Seleksi alam selalu bekerja, namun sifat mana yang menguntungkan bergantung pada konteks lingkungan.

Demikian tulisan mengenai isi buku The Origin of Species. Terima kasih.

Sumber:

Campbell, Neil A. et al.2008. Biology. Eighth Edition. Pearson Benjamin Cummings. Terjemahan Damaring Tyas Wulandari .2012. Biologi. Edisi 8 Jilid 2. Erlangga. Jakarta.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *