Kelemahan Teori Evolusi Darwin menurut Teori Penciptaan

Kelemahan Teori Evolusi Darwin – Menurut teori evolusi, semua spesies yang ada di alam sekarang ini merupakan hasil evolusi dari sebuah sel primitif protobion yang terbentuk kira-kira 3,8 miliar tahun yang lalu. Menurut teori itu pula, sel hidup pertama berasal dari materi tak hidup melalui peristiwa kebetulan. Ada banyak ahli yang mendukung teori tersebut, tetapi banyak pula menentangnya. Kelompok yang menentang teori evolusi berpendapat bahwa makhluk hidup yang ada di alam ini merupakan hasil penciptaan Sang Maha Pencipta. Teori tersebut, dinamakan teori penciptaan. Menurut teori penciptaan, makhluk hidup diciptakan secara periodik pada masa-masa tertentu. Pendukung dan penentang teori evolusi tentu memiliki argumen-argumen yang mendukung pendapatnya masing-masing.

Menurut pendapat para ahli yang menganut teori penciptaan, teori evolusi memiliki banyak kelemahan dan tidak memiliki cukup bukti untuk mempertahankan kebenaran teorinya. Menurut mereka, kelemahan teori evolusi Darwin adalah tidak didasarkan pada temuan ilmiah yang konkret, tetapi dibangun hanya berdasarkan asumsi-asumsi. Dalam bukunya yang berjudul The Origin of Species, Darwin juga mengakui adanya “kesulitan-kesulitan teori” dan masih berharap hal itu dapat terpecahkan dengan adanya penemuan-penemuan ilmiah baru. Namun, beberapa temuan-temuan ilmiah yang baru justru makin mempersulit teori-teorinya.

Kelemahan Teori Evolusi DarwinMenurut penganut teori penciptaan, terdapat 3 kelemahan teori evolusi Darwin yang mendasar, yaitu

  1. tidak dapat menjelaskan bagaimana kehidupan di bumi bermula;
  2. tidak ada temuan ilmiah yang menunjukkan bahwa “mekanisme evolusi” yang diajukan oleh teori tersebut memiliki kekuatan untuk berevolusi;
  3. terdapat catatan fosil yang menunjukkan adanya hal-hal yang berlawanan dari apa yang dikemukakan oleh teori evolusi.

Kelemahan Teori Evolusi Darwin

1. Teori Evolusi Tidak Dapat Menjelaskan Bagaimana Kehidupan di Bumi Bermula

Menurut teori evolusi, semua spesies makhluk hidup adalah produk evolusi sebuah sel hidup tunggal yang muncul dari bumi primitif sekitar 3,8 miliar tahun yang lalu. Dari sebuah sel tunggal tersebut, secara berangsur-angsur akan terbentuk jutaan spesies makhluk hidup yang kompleks. Pertanyaan mendasar dan paling penting untuk dijawab adalah bagaimana “sel pertama” itu bermula? Jika evolusi seperti teori ini benar-benar terjadi, mengapa jejaknya tidak dapat diamati dalam catatan fosil? Karena tidak mengenal adanya penciptaan, teori evolusi bertahan bahwa “sel pertama” bermula secara kebetulan dalam hukum- hukum alam tanpa rancangan dan pengaturan apa pun. Teori evolusi menyatakan bahwa materi tak hidup dapat memproduksi sebuah sel hidup sebagai hasil dari suatu peristiwa kebetulan.

Dalam teorinya [baca: Teori Evolusi Darwin], Darwin tidak pernah merujuk kepada asal usul kehidupan. [baca: Teori asal usul kehidupan] Pemahaman sains pada masa Darwin masih beranggapan bahwa makhluk hidup mempunyai struktur yang sangat sederhana sehingga pembentukan sebuah sel hidup dari bahan tak hidup sangat mungkin terjadi. Pada saat Darwin menyusun teorinya, teori abiogenesis masih dianut oleh dunia ilmu pengetahuan pada waktu itu dan merupakan landasan bagi teori evolusi. Akan tetapi, lima tahun setelah buku Darwin diterbitkan, penemuan Louis Pasteur membuktikan kekeliruan teori abiogenesis. Dengan penemuannya, Pasteur telah menggugurkan teori abiogenesis yang menyatakan bahwa kehidupan berasal dari materi tidak hidup. Karena teori abiogenesis telah gugur, teori evolusi yang dibangun atas dasar teori abiogenesis (karena menyatakan sel pertama berasal dari benda tak hidup) mestinya juga gugur atau perlu ditinjau kembali.

Banyak percobaan dari para ahli terdahulu, seperti Alexander Oparin dan Stanley Miller, yang ingin membuktikan bahwa sel hidup dapat terbentuk dari benda tak hidup. Namun, sampai sekarang belum ada yang berhasil membuktikan bahwa sel makhluk hidup dapat bermula dari suatu peristiwa kebetulan. Stanley Miller hanya berhasil membuktikan bahwa asam-asam amino terbentuk dari gas-gas yang diberi energi dari loncatan bunga api listrik. [Percobaan Stanley Miller dibahas pada Teori asal usul kehidupan]

Alasan utama mengapa teori evolusi tidak dapat menjelaskan tentang asal usul kehidupan adalah karena sel hidup yang paling sederhana pun ternyata memiliki struktur yang sangat kompleks. Salah satu kejadian yang sangat sulit dijelaskan dengan peristiwa kebetulan adalah terbentuknya protein yang merupakan salah satu penyusun sel hidup. Asam nukleat atau DNA makhluk hidup hanya dapat bereplikasi dengan bantuan sejumlah protein tertentu (enzim). Namun, sintesis enzim-enzim tersebut hanya dapat terjadi dengan adanya informasi yang tersimpan dalam DNA. Karena saling bergantung, keduanya harus ada pada saat yang bersamaan untuk mengadakan replikasi. Hal itu menunjukkan bahwa tidak mungkin kehidupan bermula dengan sendirinya dari bahan tak hidup. Pada kejadian di atas sangat tidak mungkin protein dan asam nukleat, yang keduanya berstruktur kompleks, muncul secara spontan di tempat dan pada saat yang sama. Namun, suatu hal yang juga mustahil jika protein ada tanpa kehadiran DNA atau sebaliknya. Dengan melihat kasus tersebut, sangat sulit dijelaskan bahwa kehidupan dapat bermula dengan cara kimiawi. Karena tidak mungkin terjadi secara alami, kehidupan ada karena “diciptakan” oleh Tuhan Sang Maha Pencipta. Fakta ini secara eksplisit menggugurkan teori evolusi yang telah mengingkari adanya penciptaan.

2. Tidak Ada Temuan Ilmiah yang Menunjukkan bahwa “Mekanisme Evolusi” yang Diajukan Teori Evolusi Memiliki Kekuatan untuk Berevolusi

Dalam buku The Origin of Species, Darwin menyatakan bahwa evolusi terjadi karena adanya mekanisme seleksi alam. Menurut teori mekanisme seleksi alam [baca: Mekanisme Evolusi : Seleksi Alam, Mutasi Gen], makhluk hidup yang lebih kuat dan sesuai dengan kondisi alam habitatnya akan bertahan hidup, sedangkan yang lemah cenderung mengalami kepunahan. Contohnya, pada sekawanan rusa di padang rumput yang terancam oleh pemangsa, mereka yang mampu berlari lebih kencang akan bertahan hidup. Pada akhirnya, yang terbentuk adalah kawanan rusa yang terdiri atas rusa-rusa yang kuat dan mampu berlari cepat. Meskipun demikian, siapa yang dapat menjamin kebenaran teori bahwa mekanisme seleksi alam seperti contoh di atas menyebabkan rusa berevolusi membentuk spesies lain yang berlari kuat dan cepat, misalnya kuda? Hal itulah yang membuktikan bahwa mekanisme seleksi alam tidak memiliki kekuatan evolusioner. Kenyataan ini juga disadari oleh Darwin, dengan menyatakan bahwa seleksi alam tidak dapat melakukan apa pun hingga terjadi variasi yang menguntungkan.

Apakah yang dimaksud dengan “variasi yang menguntungkan”? Darwin mencoba menjawab pertanyaan ini berdasarkan pemahaman sains yang primitif di zamannya. Menurut Lamarck, seorang ahli biologi Perancis yang hidup sebelum Darwin, makhluk hidup meneruskan sifat-sifat yang mereka peroleh sepanjang masa hidupnya kepada generasi selanjutnya. Sifat-sifat tersebut, yang terakumulasi dari satu generasi ke generasi lainnya, menyebabkan terbentuknya spesies baru. Contohnya, menurut Lamarck, jerapah berevolusi dari antelop. Begitu mereka berjuang untuk memakan daun-daun di pohon-pohon yang tinggi, leher mereka memanjang dari generasi ke generasi.

Namun, hukum pewarisan sifat yang ditemukan oleh Mendel dan diakui oleh ilmu genetika yang berkembang pada abad ke-20, menggugurkan pendapat bahwa sifat-sifat yang diperoleh melalui seleksi alam diteruskan ke generasi berikutnya. Dengan demikian, menurut pengamat teori penciptaan, seleksi alam tidak dapat menunjukkan mekanisme evolusi.

Selain seleksi alam, mekanisme mutasi juga dianggap merupakan penyebab terjadinya evolusi. Menurut paham evolusi modern, mutasi dianggap (perubahan pada gen makhluk hidup karena faktor-faktor eksternal, seperti radiasi atau kesalahan replikasi) sebagai penyebab munculnya variasi yang menguntungkan. Menurut teori evolusi, jutaan makhluk hidup yang ada di atas bumi terbentuk sebagai hasil dari proses mutasi banyak organ kompleks organisme. Akan tetapi, sebuah fakta ilmiah seketika melemahkan teori tersebut. Berdasarkan fakta, mutasi tidak menyebabkan makhluk hidup berkembang, tetapi cenderung selalu merugikan.

Hal itu terjadi karena DNA memiliki struktur yang sangat kompleks dan mutasi dalam bentuk pengaruh acak dapat mengakibatkan kerusakan pada DNA. Telah dipahami bahwa mutasi, yang ditampilkan sebagai sebuah mekanisme evolusioner, sebenarnya merupakan peristiwa genetik yang merugikan makhluk hidup dan menjadikan mereka cacat. Dengan demikian, tak diragukan lagi bahwa sebuah mekanisme yang merusak tidak mungkin menjadi mekanisme evolusioner. Fakta ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak terdapat mekanisme evolusioner di alam. Karena tidak ada mekanisme evolusioner, tidak mungkin pula proses evolusi pernah terjadi.

3. Terdapat Catatan Fosil yang Menunjukkan Adanya Hal-Hal yang Berlawanan dari Apa yang Dikemukakan oleh Teori Evolusi

Menurut teori evolusi, setiap spesies makhluk hidup berasal dari spesies terdahulu. Suatu spesies yang telah ada sebelumnya lama-kelamaan akan berubah menjadi spesies lain. Semua spesies di alam ini terbentuk dengan cara seperti itu, secara perlahan dan dalam periode perubahan yang panjang.

Jika hal tersebut benar terjadi, pasti ada spesies-spesies yang merupakan bentuk peralihan. Misalnya, peralihan antara ikan dan reptil atau antara reptil dan burung. Dengan kata lain, mestinya pada zaman dahulu pernah hidup sejumlah makhluk, misalnya ikan yang memiliki beberapa sifat reptil. Seharusnya pula terdapat sejumlah spesies reptil yang memiliki beberapa sifat burung. Para penganut teori evolusi percaya bahwa makhluk-makhluk peralihan pernah hidup di masa lampau merupakan bentuk-bentuk transisi.

Namun, para penganut teori penciptaan menyebut makhluk-makhluk tersebut merupakan makhluk khayalan yang tidak pernah ada. Para penganut teori penciptaan berkeyakinan bahwa jika spesies transisi tersebut benar-benar pernah ada, pasti terdapat jutaan makhluk peralihan yang jumlahnya tiap spesies juga berjuta-juta. Darwin pun mengemukakan pendapatnya bahwa jika teori tersebut benar, akan ditemukan banyak sekali jumlah spesies transisi/ antara yang menghubungkan semua spesies dalam grup yang sama dan bukti keberadaannya dapat ditemukan di antara sisa-sisa fosil.

Meskipun sejak pertengahan abad ke-19 telah dilakukan pencarian fosil-fosil di seluruh penjuru dunia, tidak pernah ditemukan bentuk-bentuk transisi tersebut. Semua fosil yang ditemukan dalam penggalian menunjukkan tanda-tanda bahwa kehidupan muncul di bumi secara tiba-tiba dan dalam bentuk yang sempurna. Catatan fosil tidak menunjukkan adanya evolusi bertahap, tetapi memperlihatkan adanya ledakan tiba-tiba satu kelompok makhluk hidup yang disertai kepunahan kelompok lain. Dengan kata lain, semua spesies makhluk hidup muncul tiba-tiba dalam bentuk sempurna, tanpa bentuk-bentuk peralihan apa pun di antaranya. Tentu saja, hal tersebut sangat berlawanan dengan asumsi-asumsi dalam teori Darwin. Hal itu merupakan bukti kuat bahwa makhluk hidup diciptakan.

Baik teori penciptaan maupun teori evolusi, masing-masing memiliki penjelasan tentang asal usul makhluk hidup. Teori penciptaan menyatakan bahwa organisme yang muncul di bumi sepenuhnya telah maju, sedangkan teori evolusi menyatakan bahwa organisme muncul dari bentuk yang sederhana. Organisme yang sederhana ini, selanjutnya berangsur-angsur berkembang menjadi spesies yang lebih maju. Jika muncul dalam keadaan yang telah sepenuhnya maju, sudah pasti makhluk-makhluk tersebut telah diciptakan oleh Tuhan Sang Maha Pencipta. Hasil kajian terhadap fosil-fosil yang ditemukan menunjukkan bahwa makhluk hidup muncul di muka bumi dalam keadaan sudah maju dan sempurna. Hal itu berarti bahwa asal usul spesies bukan karena evolusi melainkan melalui penciptaan.

Contoh yang paling sering digunakan untuk menjelaskan peristiwa evolusi, adalah fosil tentang asal usul manusia modern. Menurut para ahli evolusi, manusia modern yang sekarang ada, berasal dari sejenis makhluk menyerupai kera. Selama proses evolusi yang memakan waktu 4—5 juta tahun, terdapat sejumlah bentuk transisi antara manusia modern dan leluhurnya. Menurut skenario, terdapat empat kategori dasar perkembangan evolusi manusia, yaitu

  1. Australopithecus,
  2. Homo habilis,
  3. Homo erectus, dan
  4. Homo sapiens

Para evolusionis menyatakan bahwa nenek moyang manusia adalah makhluk yang menyerupai kera, yaitu Australopithecus yang berarti “kera Afrika Selatan”. Makhluk ini sebenarnya adalah spesies kera kuno yang telah punah. Tahap evolusi manusia berikutnya adalah “Homo”, yaitu “manusia” yang dianggap lebih maju daripada Australopithecus. Para evolusionis membuat skema evolusi dengan menyusun fosil-fosil yang berbeda dari makhluk-makhluk ini dalam urutan tertentu. Skema tersebut hingga kini tidak pernah terbukti karena rantai yang mencapai sejauh Homo sapiens tidak pernah ditemukan. Dengan menyusun rantai hubungan “AustralopithecusHomo habilisHomo erectus → Homo sapiens“, para ahli menyatakan bahwa masing-masing spesies ini adalah nenek moyang spesies lainnya. Akan tetapi, temuan para ahli paleoantropologi baru-baru ini mengungkapkan bahwa Australopithecus, Homo habilis, dan Homo erectus pernah hidup di belahan bumi yang berada pada saat bersamaan. Lord Solly Zuckerman, yaitu salah satu ilmuwan paling terkenal di Inggris yang melakukan penelitian atas fosil Australopithecus selama bertahun-tahun, menyimpulkan bahwa tidak ada pohon silsilah yang menunjukkan manusia berasal dari makhluk menyerupai kera.

Itulah beberapa fenomena yang dikemukakan oleh kelompok yang tidak setuju dengan teori evolusi. Fenomena-fenomena yang menunjukkan kelemahan teori evolusi tersebut telah mengakibatkan munculnya kecenderungan kebenaran bahwa spesies di bumi ini tidak terbentuk oleh proses evolusi, tetapi karena diciptakan oleh Tuhan Sang Maha Pencipta. Masih banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab dan dibuktikan oleh teori evolusi. Contohnya, bagaimana jenis kelamin jantan dan betina muncul pada tiap spesies hewan?

Terlepas dari teori mana yang benar, yang patut disadari oleh masing-masing penganut teori evolusi dan penciptaan adalah bahwa manusia memiliki keterbatasan kemampuan berpikir untuk menemukan kebenaran. Untuk mengingat apa yang telah kita lakukan 1.000 jam yang lalu saja, kita mengalami kesulitan. Apalagi, untuk mengetahui apa yang telah terjadi selama 3,8 miliar tahun yang lalu, tentu merupakan pekerjaan yang teramat sulit.

Demikian tulisan mengenai Kelemahan Teori Evolusi Darwin menurut Teori Penciptaan. Semoga bermanfaat.

Sumber:

Pujiyanto, Sri.(2012). Menjelajah Dunia BIOLOGI 3 Untuk kelas XII SMA dan MA. Platinum: Solo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *