Klasifikasi Jamur: Zygomycota, Ascomycota, Basidiomycota, Deuteromycota

Anggota kingdom Fungi atau jamur dibagi menjadi beberapa divisi. Ada ahli yang membuat klasifikasi jamur menjadi enam divisi, yaitu Myxomycota, Oomycota, Zygomycota, Ascomycota, Basidiomycota, dan Deuteromycota. Ahli lain membagi fungi menjadi empat divisi saja karena Myxomycota dan Oomycota telah dimasukkan ke dalam kingdom Protista. Klasifikasi jamur  tersebut terutama didasarkan pada ciri-ciri spora seksual dan struktur tubuh buahnya.

1. Zygomycota

Ciri jamur kelompok ini adalah hifanya tidak memiliki sekat (septa) sehingga disebut hifa senositik. Kelompok jamur ini diberi nama Zygomycota karena selama masa reproduksi seksual membentuk spora seksual khusus yang disebut zigospora. Contoh jamur yang termasuk divisi Zygomycota adalah Rhizopus, yaitu jamur yang digunakan untuk membuat tempe (Rhizopus oligosporus, Rhizopus stolonifer, dan Rhizopus oryzae). Jika Anda mengamati jamur Rhizopus dengan menggunakan mikroskop, Anda dapat melihat struktur tubuhnya dengan jelas. Struktur tubuh Rhizopus terdiri atas hifa, sporangiofor, dan sporangium (perhatikan Gambar di bawah).

struktur-jamur-Rhizopus

Hifa adalah benang-benang penyusun tubuh jamur. Pada Rhizopus ada tiga jenis hifa, yaitu stolon (hifa yang menjulang di permukaan substrat), rizoid (hifa yang menembus ke dalam substrat dan berfungsi seperti akar), serta sporangiofor (hifa yang menjulang ke atas dan membentuk sporangium). Sporangium adalah struktur atau organ pembentuk spora, juga disebut kotak spora. Di dalam sporangium dihasilkan sporangiospora arau sering disebut spora saja.

Sebagai anggota Zygomycota, Rhizopus mampu berkembang biak secara aseksual ataupun secara seksual. Reproduksi aseksual terjadi dengan cara membentuk spora di dalam sporangium yang terletak di ujung-ujung hifa. Sporangium ditunjang oleh sporangiofor. Sporangium yang telah tua dan matang biasanya berwarna hitam. Jika telah matang, sporangium akan pecah dan menghasilkan banyak spora. Selanjutnya, spora-spora tersebut akan keluar dan menyebar dengan bantuan angin. Jika jatuh pada tempat yang cocok, spora itu akan membentuk hifa baru. Reproduksi aseksual lebih sering dilakukan dibandingkan reproduksi seksual (perhatikan Gambar di bawah ini).

reproduksi-zygomycota-(rhizopus)

Jamur Zygomycota disebut juga “jamur kojugasi”. Dinamakan demikian karena perkembangbiakan seksual jamur ini dilakukan dengan cara konjugasi. Proses konjugasi terjadi di ujung-ujung hifa yang berlainan jenis, yaitu hifa (+) dan hifa (-). Hifa-hifa tersebut bersifat haploid (n). Kedua jenis hifa itu akan mengalami pembengkakan dan pemanjangan pada ujungnya. Hifa yang membengkak disebut gametangium (jamak: gametangia), yaitu struktur atau organ pembentuk gamet. Selanjutnya, kedua gametangium itu bersatu dan membentuk zigospora yang bersifat diploid (2n). Zigospora adalah spora berdinding tebal dan sedang dalam fase istirahat. Karena berdinding tebal, zigospora tahan terhadap kondisi lingkungan yang buruk. Zigospora dapat dorman (keadaan terhambatnya pertumbuhan atau perkembangan untuk sementara waktu) selama beberapa bulan dan akan berkecambah serta tumbuh menjadi hifa-hifa baru jika kondisi lingkungan membaik. Pada saat pertumbuhan hifa, terjadi peristiwa meiosis sehingga hifa tadi bersifat haploid. Selanjutnya, hifa-hifa tersebut membentuk sporangiofor. Di ujung sporangiofor terdapat sporangium yang berisi spora. Setelah dihasilkan spora, akan terjadi proses reproduksi aseksual. Dan penjelasan di atas, diketahui bahwa pada siklus hidup Rhizopus, fase haploid lebih panjang daripada fase diploid.

Anggota Zygomycota umumnya hidup sebagai saprofit, baik di tanah atau pun di sisa-sisa organisme, misalnya di kayu Iapuk. Beberapa jenis Zygomycota merupakan parasit pada tumbuhan dan serangga. Selain Rhizopus, contoh lain Zygomycota adalah Pilobolus, dan Mucor. Jamur Rhizopus oryzae digunakan dalam fermentasi sake, yaitu minuman khas Jepang, sedangkan Mucor adalah jamur yang sering tumbuh di roti. Beberapa jenis Mucor merupakan jamur patogen.

2. Ascomycota

Ascomycota merupakan divisi terbesar dalam kingdom Fungi. Ciri utama divisi Ascomycota adalah membentuk spora seksual yang disebut askospora. Askospora terbentuk di dalam askus (jamak: aski), yaitu suatu tubuh buah khusus yang bentuknya menyerupai mangkuk atau botol. Tidak seperti Zygomycota, Ascomycota memiliki hifa yang bersekat. Anggota Ascomycota cukup beragam, ada yang bersel satu, misalnya yeast atau khamir (Saccharomyces cerevisiae) (perhatikan gambar di bawah bagian a); ada yang bersel banyak, contohnya Penicillium; dan ada yang membentuk tubuh buah, seperti Nectria dan Peziza (Gambar bagian b). Pada umumnya anggota Ascomycota adalah jamur bersel banyak.

saccharomyces cerevisiae dan peziza

Seperti halnya Zygomycota, Ascomycota juga mengalami reproduksi aseksual dan seksual. Pada Ascomycota bersel banyak, reproduksi aseksual dilakukan dengan cara membentuk konidiospora atau sering disebut konidia (tunggal: konidium) saja (Gambar di bawah bagian (a) dan (b)). Konidia terbentuk pada ujung hifa khusus yang tumbuh tegak, yang disebut konidiofor. Warna konidia bermacam-macam, ada yang hitam, merah, biru, dan hijau, bergantung pada jenis jamurnya. Konidia yang telah masak apabila jatuh pada tempat yang cocok, akan tumbuh menjadi hifa baru. Sementara itu reproduksi aseksual pada Ascomycota bersel satu dilakukan dengan cara membentuk tunas (budding) (Gambar di bawah bagian c). Tunas yang telah masak akan terlepas dan sel induknya dan tumbuh menjadi individu baru.

konidia pada penicillium, aspergilus, S. cereviseae

Reproduksi seksual pada Ascomycota terjadi dengan cara membentuk askospora. Askospora adalah spora seksual yang terhentuk di dalam askus (Gambar di bawah). Askus terdapat di dalam tubuh buah yang disebut askokarp.

askospora dalam askus

Bagaimana proses terbentuknya askospora?

reproduksi ascomycota

Pada Ascomycota ada dua jenis hifa, yaitu hifa (+) dan hifa (-). Hifa (+) membentuk gametangia jantan (anteridium) dan hifa (-) membentuk gametangia betina (askogonium). Kedua jenis gametangia tersebut bertemu dan terjadi plasmogami (penyatuan sitoplasma) tanpa disertai penyatuan inti. Jadi, dalam peristiwa tersebut akan terbentuk sel dengan dua inti. Askogonium yang telah memiliki dua inti tersebut akan menghasilkan hifa-hifa askogonium yang dikariotika (berinti dua). Hifa dikariotika itu bercabang-cabang membentuk askokarp. Sementara itu, ujung hifa dikariotika akan membentuk sel khusus yang akan menjadi askus. Di dalam askus akan terjadi peleburan dua inti (diploid (2n)). Selanjutnya, inti askus membelah dua kali. Pembelahan pertama terjadi secara meiosis dan menghasilkan empat sel. Pembelahan kedua terjadi secara mitosis sehingga akhirnya terbentuk delapan askospora di dalam askus tersebut.

Tubuh buah (askokarp) yang terbentuk memiliki bentuk bermacam-macam dan merupakan dasar klasifikasi divisi Ascomycota. Bentuk-bentuk askokarp (Gambar di atas) tersebut, antara lain

  • kleistotesium: askokarp berbentuk bulat tertutup, merupakan ciri kelas Plectomycetes;
  • peritesium: askokarp berbentuk botol, merupakan ciri kelas Pyrenomycetes;
  • apotesium: askokarp berbentuk cawan, merupakan ciri kelas Discomycetes;
  • askus telanjang: tidak membentuk askokarp, merupakan ciri kelas Protoascomycetes.

Beberapa jenis jamur Ascomycota merupakan jamur yang menguntungkan manusia, di antaranya, adalah Neurospora crassa, Trichoderma reesei, S. cerevisiae, Aspergillus, Penicillium, dan Phaffia rhodozyma. Neurospora crassa, yang dahulu bernama Monilia sitophila, merupakan jamur yang digunakan untuk membuat oncom.

Neurospora crassa

Oncom adalah bahan makanan khas daerah Jawa Barat yang terbuat dari bungkil kacang tanah (ampas kacang tanah setelah diambil minyaknya) atau ampas tahu yang difermentasikan. Trichoderma reesei merupakan jamur penghasil enzim selulase. Enzim selulase yang dihasilkan oleh Trichoderma reesei cukup banyak sehingga dapat diisolasi dan dimurnikan. Penicillium merupakan jamur penghasil antibiotik, contohnya Penicillium notatum dan Penicillium chrysogenum. Keduanya menghasilkan antibiotik penisilin. Penicillium camemberti menghasilkan cita rasa keju.

Saccharomyces cerevisiae atau disebut juga ragi/ khamir/yeast dimanfaatkan untuk membuat tapai. Jamur tersebut mampu mengubah karbohidrat menjadi alkohol. Ragi juga digunakan untuk membuat tapai.

tapai

Aspergillus juga merupakan jamur yang menguntungkan manusia, misalnya Aspergillus niger digunakan untuk pembuatan asam sitrat, sedangkan Aspergillus wentii dan Aspergillus oryzae digunakan untuk membuat kecap. Phaffia rhodozyma merupakan jamur penghasil pigmen merah.

Selain menguntungkan, beberapa jenis jamur Ascomycota juga dapat menimbulkan kerugian pada manusia, misalnya

  • Aspergillus flavus (Gambar bagian a), menghasilkan aflatoksin yang dapat menyebabkan kanker hati, biasa ditemukan pada kacang-kacangan dan biji-bijian;
  • Candida albicans (Gambar bagian b), yaitu khamir penyebab penyakit keputihan pada perempuan;
  • Blastomyces dermatitidis, yaitu penyebab penyakit blastomikosis;
  • Secale cornutum, yaitu parasit pada tanaman gandum.

aspergillus flavus & candida albicans

3. Basidiomycota

Ciri utama jamur yang termasuk dalam divisi Basidiomycota adalah membentuk spora seksual yang disebut basidiospora. Basidiospora terbentuk pada bagian yang disebut basidium (jamak: basidia). Divisi ini memiliki anggota lebih dari 25.000 spesies. Basidiomycota merupakan kelompok jamur yang perkembangannya paling tinggi di antara kelompok jamur lainnya. Ciri lainnya adalah mampu membentuk tubuh buah yang makroskopis sehingga sangat mudah dilihat. Jamur-jamur anggota Basidiomycota dapat dijumpai pada tanah, pohon yang lapuk, atau jerami di musim hujan. Bentuk dan warnanya juga bermacam-macam. Beberapa jenis sudah dibudidayakan sebagai bahan makanan dan obat-obatan.

Reproduksi jamur Basidiomycota umumnya berlangsung secara seksual dengan cara konjugasi untuk membentuk basidiospora (Gambar di bawah). Reproduksi secara aseksual sangat jarang terjadi. Jika ada, umumnya dengan cara membentuk konidia. Proses pembentukan basidiospora adalah sebagai berikut.

reproduksi basidiomycota (seksual )

Basidiospora merupakan spora yang haploid. Spora ini tumbuh membentuk hifa-hifa yang bersekat. Tiap sekat berinti satu. Ada dua jenis hifa, yaitu hifa (+) dan hifa (-). Jika ujung dua hifa yang berbeda bertemu, akan terjadi percampuran plasma sel (plasmogami). Inti sel hifa (+) akan diberikan ke sel hifa (—) sehingga terbentuk sel hifa dengan dua inti (hifa dikariotika). Sel hifa dengan dua inti ini akan terus berkembang membentuk miselium yang dikariotika juga. Miselium-miselium yang berinti dua ini secara khas tumbuh menjadi tubuh buah (basidiokarp) yang bentuknya seperti payung atau bentuk lainnya. Basidiokarp menghasilkan basidium yang terdapat pada lapisan yang disebut himenium. Di dalam himenium terjadi kariogami, yaitu persatuan dua inti menjadi satu. Inti ini, kemudian mengalami pembelahan meiosis untuk membentuk empat basidiospora yang terdapat di ujung basidium. Di dalam setiap basidium terdapat empat basidiospora.

Beberapa jamur divisi Basidiomycota dimanfaatkan manusia sebagai bahan pangan karena memiliki kandungan gizi yang tinggi, atau sebagai bahan obat-obatan. Beberapa jenis Basidiomycota telah dibudidayakan secara intensif, misalnya jamur merang (Volvariella volvacea), jamur tiram (Pleurotus sp.), jamur kuping (Auricularia polytricha), jamur Agaricus, jamur Boletus edulis, jamur shittake, dan jamur ling zhi (Ganoderma lucidum). Sementara itu, jamur Basidiomycota yang merugikan manusia, antara lain Amanita phalloides dan A. muscaria (Gambar di bawah) yang menghasilkan racun berbahaya serta Filobasidiella neoformans yang dapat menimbulkan penyakit infeksi paru-paru pada manusia.

4. Deuteromycota

Jamur Deuteromycota sering disebut juga jamur tidak sempurna (fungi imperfecti) karena belurn diketahui reproduksi seksualnya sehingga reproduksi jamur ini dilakukan secara aseksual dengan membentuk konidia seperti pada jamur Ascomycota.

Jika suatu anggota jamur Deuteromycota sudah ditemukan cara reproduksi seksualnya, ia dimasukkan dalam divisi yang berbeda. Contohnya adalah jamur oncom. Dahulu, jamur tersebut termasuk divisi Deuteromycota dengan nama Moniliasitophila. Namun, setelah diketahui bahwa jamur ini dapat membentuk askospora, sekarang jamur tersebut termasuk divisi Ascomycota dengan nama Neurospora crassa. Contoh Iainnya adalah Aspergillus dan Penicillium. Beberapa anggota genus Aspergillus dan Penicilium ada yang termasuk divisi Deuteromycota, sementara anggota Iainnya termasuk divisi Ascomycota. Ciri lain Deuteromycota adalah hifanya bersekat.

Sebagian besar anggota Deuteromycota bersifat merugikan karena merupakan parasit yang dapat menimbulkan penyakir baik pada manusia, hewan, maupun tumbuhan. Contoh anggota Deuteromycota yang merugikan, antara lain chiadosporium penyebab penyakit kulit, Trichophyton dan Epidermophyton penyebab penyakit kulit dan kuku, serta Microsporum penyebab penyakit rambut dan kuku.

Sumber:
Pujiyanto, Sri.(2012). Menjelaajah Dunia BIOLOGI Untuk kelas X SMA dan MA. Platinum: Solo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *