Komponen Ekosistem : Komponen Abiotik dan Komponen Biotik

Ekosistem atau sistem ekologi merupakan tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Kestabilan suatu ekosistem sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain komponen-komponen penyusun ekosistem. Secara garis besar, Komponen Ekosistem terdiri dari dua, yaitu komponen abiotik (tak hidup) dan komponen biotik (hidup).

A. Komponen Abiotik (Komponen Ekosistem)

Komponen abiotik atau faktor-faktor abiotik suatu ekosistem adalah seluruh benda yang tidak hidup, baik yang menyangkut fenomena kebendaan dan fenomena kejadian, yang memengaruhi ekosistem tersebut. Contoh komponen abiotik suatu ekosistem, antara lain cahaya matahari, air, suhu, derajat keasaman (pH), kelembapan udara, kadar garam (salinitas), mineral, gas oksigen, dan gas karbon dioksida.

1) Cahaya Matahari

Cahaya matahari merupakan sumber energi utama. Oleh sebab itu, jumlah cahaya matahari yang masuk menentukan struktur serta fungsi ekosistem. Dalam setiap ekosistem, cahaya matahari merupakan sumber energi utama untuk berlangsungnya proses fotosintesis tumbuhan yang mengubah karbon dioksida dan air menjadi karbohidrat. Karbohidrat merupakan sumber energi bagi makhluk hidup lain, yaitu hewan dan manusia. Jika tidak ada komponen ekosistem ini (cahaya matahari), tumbuhan tidak dapat melakukan fotosintesis sehingga akan mati. Jika tidak ada tumbuhan yang hidup, hewan dan manusia juga tidak pernah ada di bumi ini karena tidak terdapat bahan makanan hasil proses fotosintesis tumbuhan hijau.

Cahaya matahari merupakan sumber panas yang penting. Selain itu, panjang pendeknya waktu penyinaran cahaya matahari juga dapat memengaruhi musim kawin beberapa jenis hewan dan tumbuhan.

2) Air

Air merupakan faktor pembatas makhluk hidup yang paling penting. Tidak ada satu pun makhluk hidup di muka bumi ini yang dapat hidup tanpa air. Makhluk hidup yang hidup di gurun tandus sekalipun, pasti memerlukan air untuk kehidupannya. Mengapa komponen ekosistem ini (air) begitu penting? Lebih dari 80% tubuh makhluk hidup tersusun atas air. Air tersebut berperan untuk melarutkan zat-zat kimia di dalam sitoplasma, menjaga tekanan osmosis dan kelembapan tubuh, serta sebagai tempat terjadinya berbagai proses kimia di dalam tubuh makhluk hidup. Bagi ekosistem darat, air menentukan kelembapan udara yang berpengaruh terhadap kehidupan organismenya. Air juga merupakan tempat hidup bagi organisme dalam ekosistem perairan.

Distribusi air di muka bumi ini tidaklah merata, ada tempat yang sangat berlimpah sumber airnya dan ada tempat yang sangat langka sumber airnya. Perbedaan kondisi tersebut menyebabkan perbedaan tipe-tipe ekosistem. Organisme-organisme yang hidup di dalamnya akan beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap tipe-tipe ekosistem tersebut. Organisme di ekosistem gurun pasir tentu akan beradaptasi untuk menghemat air. Sebaliknya, organisme yang hidup di lahan basah dengan kelembapan tinggi, tentu akan beradaptasi untuk membuang air sebanyak-banyaknya.

3) Suhu

Suhu atau temperatur lingkungan berpengaruh langsung terhadap kehidupan organisme. Hal itu disebabkan komponen ekosistem ini (suhu) memengaruhi laju semua reaksi biokimiawi di dalam tubuh organisme. Setiap organisme memiliki kisaran suhu lingkungan tertentu untuk hidupnya yang disebut suhu optimum. Di bawah atau di atas suhu optimum, beberapa jenis organisme tidak lagi mampu bertahan hidup. Komponen ekosistem ini (suhu) yang diperlukan oleh organisme yang hidup di daerah kutub tentu berbeda dari suhu yang diperlukan oleh organisme yang hidup di daerah gurun.

Pada umumnya makhluk hidup memiliki kisaran suhu lingkungan 0—40oC. Makhluk hidup, khususnya hewan, umumnya tidak mampu bertahan hidup pada suhu di atas 40oC. Namun, beberapa jenis mikroorganisme, misalnya ganggang biru dan bakteri mampu bertahan hidup pada suhu sekitar 70oC. Tentu saja mikroorganisme tersebut memiliki cara beradaptasi tertentu untuk dapat bertahan hidup pada suhu yang cukup tinggi itu.

4) Derajat Keasaman 

Derajat keasaman atau pH merupakan faktor abiotik yang juga berpengaruh terhadap karakteristik suatu ekosistem. Umumnya organisme dapat hidup dengan baik pada lingkungan dengan pH netral, yaitu sekitar 7. Lingkungan yang terlalu asam atau terlalu basa kurang baik bagi kehidupan organisme di dalamnya. Kendati begitu, ada organisme tertentu, misalnya beberapa jenis Archaebacteria dan jamur [silahkan baca: Fungi / jamur] yang dapat hidup dengan baik pada lingkungan (substrat) yang cenderung asam.

5) Kelembapan

Kelembapan udara menunjukkan besarnya kandungan uap air di udara. Komponen ekosistem ini (kelembapan) memiliki pengaruh penting terhadap laju hilangnya air pada tumbuhan dan hewan. Jika kelembapan rendah, transpirasi atau penguapan akan meningkat. Begitu pula sebaliknya. Pada umumnya kelembapan tinggi terjadi pada malam hari dan kelembapan rendah terjadi pada siang hari. Organisme-organisme yang memiliki permukaan tubuh yang lembap, contohnya katak, siput, lumut hati, dan lumut sejati, menjadi aktif hanya pada periode/ masa lembap, misalnya musim hujan.

Komponen ekosistem ini (kelembapan) juga sangat menentukan tipe ekosistem, khususnya ekosistem darat. Ekosistem yang memiliki kelembapan rendah, seperti gurun, akan didominasi oleh organisme-organisme yang mampu beradaptasi untuk menghemat air, misalnya tumbuhan kaktus. Tumbuhan kaktus berbatang tebal dan berlapis zat lilin untuk menyimpan air, sedangkan untuk mengurangi transpirasi, kaktus membuka stomatanya hanya pada malam hari. Adapun ekosistem dengan kelembapan tinggi, contohnya kolam, akan ditumbuhi tanaman-tanaman yang berdaun lebar seperti teratai. Daun yang lebar, berfungsi memperluas area transpirasi (Gambar di bawah).

kaktus dan teratai pada pembahasan komponen ekosistem
Daun kaktus berbentuk duri untuk mengurangi penguapan, sedangkan teratai berdaun lebar untuk memperluas area penguapan.

6) Kadar Garam (Salinitas)

Kadar garam (salinitas) sangat menentukan bentuk atau tipe ekosistem. Berdasarkan kandungan kadar garamnya, ada tiga jenis ekosistem, yaitu ekosistem air asin, ekosistem air tawar, dan ekosistem air payau. Hewan-hewan yang hidup di ekosistem air asin memiliki cara-cara tertentu untuk beradaptasi dengan lingkungannya yang berkadar garam tinggi. Begitu pula sebaliknya, hewan-hewan air tawar juga beradaptasi terhadap lingkungannya yang berkadar garam rendah. Dapatkah ikan laut hidup di air tawar atau ikan air tawar hidup di air laut?

Hal di atas berlaku pula pada tumbuhan. Sebagian besar tumbuhan tidak dapat hidup di daerah yang berkadar garam tinggi. Lingkungan berkadar garam tinggi menimbulkan perbedaan tekanan osmosis yang cukup besar antara sel-sel akar tumbuhan dan lingkungannya. Jika hal itu terjadi, sel-sel akar tumbuhan akan mati dan pada akhirnya tumbuhan itu juga mati. Ada beberapa jenis tumbuhan yang mampu hidup di lingkungan berkadar garam tinggi, contohnya pohon bakau.

7) Mineral

Mineral-mineral yang terkandung di dalam tanah suatu ekosistem sangat memengaruhi kehidupan tumbuhan yang menghuni ekosistem tersebut. Sebagaimana kita ketahui, tumbuhan mampu membuat sendiri makanannya melalui proses fotosintesis. Dari fotosintesis itu akan dihasilkan gula, yaitu suatu jenis karbohidrat yang kemudian akan diubah menjadi makanan yang diperlukan oleh tumbuhan. Untuk berlangsungnya proses fotosintesis, tumbuhan memerlukan senyawa-senyawa kimia sederhana (yang disebut mineral, nutrisi, atau unsur hara) yang diserap dari tanah dalam bentuk ion-ion terlarut dalam air tanah. Beberapa mineral yang diperlukan tumbuhan, antara lain belerang (S), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), besi (Fe), natrium (Na), dan klor (Cl). Fungsi mineral-mineral tersebut, antara lain sebagai katalisator reaksi metabolisme, penyusun tubuh, penjaga keseimbangan asam basa, dan pengatur fungsi faal tubuh.

[Silahkan baca juga: Mineral pada makanan]

Seperti halnya tumbuhan, hewan juga memerlukan mineral. Kebutuhan komponen ekosistem ini (mineral) pada hewan terpenuhi melalui air minum dan makanan yang dimakannya.

8) Oksigen 

Udara, khususnya yang mengandung oksigen (O2), merupakan salah satu faktor abiotik yang harus selalu tersedia. Kecuali organisme anaerob, semua makhluk hidup memerlukan komponen ekosistem ini (oksigen) untuk respirasi, yaitu pembakaran atau oksidasi makanan (karbohidrat) yang ada di dalam sel-sel tubuh menjadi energi. Pada ekosistem darat, makhluk hidup mengambil oksigen dari udara bebas secara langsung, sedangkan pada ekosistem air, makhluk hidup mengambil oksigen yang terlarut di dalam air. Kadar oksigen terlarut yang rendah dapat mengakibatkan gangguan, bahkan kematian pada organisme air.

9) Karbon Dioksida

Karbon dioksida (CO2) merupakan gas yang dihasilkan oleh proses respirasi makhluk hidup. Komponen ekosistem ini (CO2) tidak digunakan oleh manusia dan hewan, tetapi sangat diperlukan oleh tumbuhan untuk melakukan proses fotosintesis. Secara alami, fotosintesis berlangsung pada siang hari dengan bantuan cahaya matahari. Dari proses tersebut dihasilkan karbohidrat dan oksigen yang diperlukan oleh manusia dan hewan.

B. Komponen Biotik (Komponen Ekosistem )

Komponen biotik atau faktor biotik suatu ekosistem terdiri atas semua makhluk hidup (organisme), seperti manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme yang hidup di dalamnya. Berdasarkan fungsi atau peranannya dalam ekosistem, komponen itu dapat dikelompokkan menjadi produsen dan konsumen.

1) Produsen

Dalam biologi, yang dimaksud dengan produsen adalah semua organisme yang mampu membuat zat organik yang dibutuhkannya dari zat-zat anorganik. Oleh karena itu, komponen ekosistem ini (produsen) termasuk organisme autotrof (autos = sendiri; trophein = makanan) atau organisme yang mampu membuat makanannya sendiri. Tumbuhan hijau dapat mengubah senyawa anorganik (karbon dioksida dan air) menjadi senyawa organik (karbohidrat atau amilum) yang diperlukannya dengan bantuan energi cahaya melalui proses fotosintesis. Dengan demikian, tumbuhan hijau termasuk organisme fotoautotrof (photos = cahaya). Ada pula organisme yang mampu mengubah senyawa anorganik menjadi senyawa organik yang diperlukannya dengan bantuan energi kimia. Organisme seperti itu dinamakan organisme kemoautotrof.

Dalam ekosistem terestrial (darat), yang berperan sebagai produsen adalah tumbuhan lumut, tumbuhan paku, dan tumbuhan berbiji (Gambar di bawah). Sementara itu, yang berperan sebagai produsen dalam ekosistem akuatik (air) adalah fitoplankton (tumbuhan ganggang mikroskopis) dan tumbuhan ganggang makroskopis. [Silahkan baca juga: Kingdom plantae (dunia tumbuhan)]

bunga matahari pada pembahasan komponen ekosistem
Tanaman bunga matahari berperan sebagai produsen

2) Konsumen

Istilah konsumen berarti penguna. Konsumen merupakan organisme heterotrof, yaitu organisme yang tidak dapat menghasilkan zat-zat organik yang dibutuhkannya dari zat-zat anorganik. Oleh karena itu, organisme heterotrof harus mendapatkan zat-mt organik tersebut dari produsen, baik secara langsung maupun tidak langsung. Konsumen pemakan tumbuhan dinamakan herbivor, contohnya belalang dan badak (Gambar di bawah). Konsumen pemakan herbivor dinamakan karnivor, contohnya ular dan tikus tanah. Konsumen pemakan tumbuhan dan hewan dinamakan omnivor, contohnya rakun dan musang. Konsumen pemakan detritus disebut detritivor, contohnya cacing tanah, luing, dan rayap. Detritus adalah sisa-sisa tumbuhan dan hancuran tubuh hewan. Konsumen pengurai zat-zat organik menjadi zat-zat anorganik disebut dekomposer, contohnya bakteri dan jamur. Jamur juga termasuk saprotrof, yaitu konsumen yang hidup dalam media organik.

tiga tipe konsumen pada pembahasan komponen ekosistem

Dalam setiap ekosistem, selalu terjadi interaksi saling memengaruhi antarkomponennya. Komponen abiotik ekosistem dapat memengaruhi populasi organisme (komponen biotik) yang menghuni ekosistem tersebut. Demikian juga sebaliknya. Contohnya adalah tumbuhan eceng gondok yang hidup di sungai yang alirannya tidak deras. Jika jumlahnya sangat banyak, eceng gondok dapat menutupi sungai dan mengakibatkan makin lambatnya aliran air. Namun, di antara semua makhluk hidup, manusialah yang memiliki kemampuan paling besar untuk memengaruhi komponen abiotik ekosistem.

Demikian tulisan mengenai komponen ekosistem. Terima kasih.

Sumber:

Pujiyanto, Sri.(2012). Menjelajah Dunia BIOLOGI 1 Untuk kelas X SMA dan MA. Platinum: Solo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *