Senyawa Beracun dalam Bahan Pangan

Kebiasaan makan sangat ditentukan oleh tradisi dan kebudayaan suatu daerah. Makanan yang dapat menyebabkan penyakit atau berbahaya bagi kesehatan lebih baik dihindari. Dalam bahan makanan terkadang mengandung senyawa-senyawa kimia yang tidak memiliki nilai nutrisi, dan menimbulkan keracunan atau bersifat mutagen (menyebabkan perubahan sifat sel-sel tubuh). Kandungan racun dalam bahan makanan biasanya rendah, sehingga jika dikonsumsi dalam jumlah normal oleh orang yang kesehatannya normal tidak membahayakan tubuh. Variasi makanan dalam menu sangat penting, untuk menghindari terjadinya akumulasi racun dalam jumlah yang membahayakan. Senyawa beracun dalam bahan pangan antara lain sebagai berikut.

Senyawa Beracun dalam Bahan Pangan

Senyawa Beracun dalam Bahan Pangan 

1. Mimosin

Mimosin banyak terdapat dalam biji petai cina (Leucaena glauca). Mimosin dapat menyebabkan rambut rontok, jika mengonsumsi biji petai cina secara berlebihan. Namun, rambut akan tumbuh kembali, jika konsumsi dihentikan. Mimosin bersifat larut dalam air, sehingga cara menurunkan kadarnya dapat dilakukan dengan cara merendam biji petai cina pada suhu 700 C selama 24 jam atau 1000 C selama 4 menit. Jika mimosin bereaksi dengan logam, menunjukkan warna merah.

2. Asam Jengkolat

Racun asam jengkolat terdapat dalam biji jengkol (Archidendron pauciflorum). Racun yang berbentuk kristal tersebut kadarnya berbeda-beda, tergantung varietas dan umur biji jengkol. Rata-rata sebanyak 1 -2% dari berat bijinya. Ketahanan seseorang terhadap keracunan asam jengkolat berbeda-beda. Asam jengkolat sangat sukar larut dalam air, biasanya menyumbat saluran urine, tetapi jarang menimbulkan kematian. Pada pH urine yang asam, asam jengkolat akan mengkristal di ginjal.

3. Hidrogen Sianida (HCN)

Hidrogen sianida terdapat dalam biji almond, biji aprikot, biji apel, dan singkong. Kadar sianida dalam singkong manis di bawah 50 mg/kg berat singkong, masih aman dikonsumsi. Namun, singkong pahit yang mengandung sianida di atas angka tersebut dapat membahayakan. Hidrogen sianida akan mudah hilang dalam proses perebusan, asalkan tidak ditutup rapat.

4. Alkaloid dalam Kentang

Alkaloid bersifat racun dan dapat menghambat transmisi impuls saraf. Varietas dan kondisi penyimpanan kentang menentukan jumlah kadar kandungan alkaloid. Alkaloid banyak terdapat pada bagian kentang dekat kulit, terutama yang berwarna hijau atau sedang tumbuh tunas.

[Silahkan baca jugaMenyusun Menu Makanan Seimbang]

Sumber:

Irnaningtyas.(2014).Biologi untuk SMA/MA Kelas XI Kelompok Peminatan Matematika dan Ilmu Alam. Erlangga:Jakarta.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *