Simbiosis Jamur : Mikoriza dan Lumut Kerak (Lichenes)

Jamur hidup di lingkungan yang sangat beragam dan membentuk hubungan simbiosis dengan banyak organisme, antara lain tumbuhan, ganggang hijau, dan Cyanobacteria. Ada dua bentuk hubungan simbiosis jamur dengan organisme lain, yaitu mikoriza dan lumut kerak (lichenes).

1. Mikoriza

Mikoriza merupakan hubungan simbiosis mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Istilah mikoriza berasal dan bahasa Yunani (mycorrhizae) yang berarti akar jamur. Lebih dan 90 persen tumbuhan tingkat tinggi dan paku-pakuan memiliki mikoriza. Mikoriza biasanya terdapat pada tanaman pangan (misalnya, serealia, kacang-kacangan, tomat, bawang-bawangan, apel, dan stroberi) serta pada komunitas tumbuhan liar.

Dalam simbiosis ini, jamur memperoleh keuntungan karena mampu menyerap nutrisi (gula) yang dibuat tumbuhan selama fotosintesis. Sebaliknya, jamur memberikan dua keuntungan bagi tumbuhan. Pertama, hifa jamur bertindak sebagai perpanjangan akar sehingga meningkatkan kemampuan akar tumbuhan untuk menyerap air dan tanah. Kedua, enzim-enzim digestif (pencerna) yang disekresikan jamur membantu tumbuhan memecah bahan-bahan organik dalam tanah sehingga tumbuhan dapat menyerapnya sebagai nutrisi dan mineral.

Mikoriza memiliki suatu membran pada ujung hifa yang dapat membantu penyerapan elemen-elemen esensial, terutama fosfor (P), seng (Zn), mangan (Mn), tembaga (Cu), kalium (K), dan juga air. Lebih dan itu, mikoriza membantu tumbuhan lebih tahan terhadap infeksi mikroba patogen tular-tanah (soilborne) dan juga lebih tahan terhadap kekeringan.

Ada dua mikoriza yang paling umum, yaltu ektomikoriza dan endomikoriza. Keduanya dibedakan berdasarkan masuk tidaknya hifa jamur ke dalam dinding sel akar tumbuhan.

a. Ektomikoriza

Pada ektomikoriza (kadang-kadang disebut mikoriza ektotrofik), jamur menghasilkan selubung yang menyelubungi akar tumbuhan (Perhatikan gambar di bawah ini). Selubung itu kemudian menghasilkan hifa yang tidak berpenetrasi ke dalam dinding sel akar tumbuhan meskipun mereka terdapat di antara sel-sel korteks akar tumbuhan.

ektomikoriza (simbiosis jamur)

Ektomikoriza menghasilkan tubuh buah di atas tanah. Ektomikoriza merupakan ciri khas tumbuhan di daerah dingin, misalnya pinus dan eukaliptus. Jamur yang membentuk ektomikoriza terutama dari divisi Ascomycota dan Basidiomycota.

b. Endomikoriza

Endomikoriza (disebut juga mikoriza endotrofik atau mikoriza arbuskuler) tidak menghasilkan selubung; hifanya masuk ke dalam dinding sel akar rumbuhan. Masuknya hifa ke dalam dinding sel akar tumbuhan membentuk suatu struktur seperri balon (vesikel) atau invaginasi bercabang dikotomus (arbuskula) (perhatikan Gambar di bawah ini).

endomikoriza (simbiosis jamur)

Vesikel tersebut berfungsi sebagai tempat penyimpanan mineral-mineral yang diperlukan tumbuhan. Sementara itu, struktur arbuskula berfungsi meningkatkan area permukaan antara hifa dan sitoplasma sel untuk memfasilitasi transfer nutrisi di antara keduanya. Bentuk endomikoriza umumnya terdapat pada akar tumbuhan herbaseus (misalnya jagung, padi, cabai) dan pohon-pohon tropis, misalnya turi (Sesbania grandiflora). Jamur yang terlibat dalam pembentukan endomikoniza adalah dan divisi Zygomycota (misalnya, Mucor). Jamur-jamur tersebut umumnya merupakan simbion obligat, artinya mereka tidak dapat tumbuh tanpa adanya tumbuhan inang. Bentuk endomikoriza lebih umum dibandingkan bentuk ektomikoriza.

2. Lumut Kerak

Jamur Ascomycota dan Basidiomycota dapat bersimbiosis mutualisme dengan ganggang hijau, Cyanobacteria, atau keduanya, membentuk struktur yang disebut lumut kerak atau liken (lichen). Dalam simbiosis tersebut, ganggang bertugas rnenyerap cahaya matahari untuk membuat makanan melalui proses fotosintesis. Hal tersebut dapat dilakukan karena ganggang memiliki pigmen klorofil.

Adapun jamur, melalui hifa-hifanya, bertugas menyerap dan menyimpan air serta ion-ion mineral. Meskipun ganggang dan jamur dapat hidup sendiri-sendiri, bentuk lumut kerak lebih menguntungkan bagi mereka karena dalam bentuk tersebut mereka dapat hidup di substrat atau tempat yang organisme lain tidak dapat hidup atau tumbuh, misalnya substrat batu. Gambar di bawah ini menunjukkan penampang membujur lumut kerak.lichenes/ lumut kerak

Berdasarkan struktur dan daerah penyebarannya, ada tiga macam lumut kerak, yaitu krustosa, frutikosa, dan foliosa. Krustosa merupakan lumut kerak yang tumbuh sebagai lapisan kerak tipis dan pipih pada permukaan batu-batuan dan batang pohon, contohnya Parmelia ( perhatikan Gambar gambar di bawah ini).

Parmelia sulcata

Frutikosa merupakan lumut kerak dengan bentuk tegak bercabang seperti semak, serta mampu tumbuh hingga mencapai panjang 1,5 cm. Contoh lumut kerak ini adalah Usnea (lumut janggut) yang melekat pada pucuk pohon di daerah pegunungan (Gambar di bawah ini).

Usnea barbata, lumut kerak (lichenes)

Adapun foliosa merupakan lumut kerak yang berbentuk pipih dengan gelambir seperti daun; tumbuh pada permukaan tanah, contohnya Lobaria pulmonaria (Gambar di bawah ini).

Lobaria pulmonaria (lumut kerak/ lichenes)

Beberapa jenis lumut kerak memiliki nilai ekonomi, contohnya Evernia prunastri dan Pseudevernia furfuracea yang digunakan sebagai bahan campuran parfum. Di Jepang, jenis Umbilicaria esculenta merupakan hidangan untuk pesta. Jenis Roccella tinctoria digunakan untuk pembuatan kertas lakmus. Lumut kerak juga digunakan sebagai obat. Contohnya, Lobaria pulmonaria dahulu digunakan untuk melawan penyakit paru-paru, sedangkan Peltigera sp menyembuhkan rabies. Adapun Usnea biasanya dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional karena mengandung asam usnin. Asam usnin merupakan bahan antibiotik. Sejak zaman dahulu, Usnea telah digunakan untuk pengobatan, terutama di Yunani dan Cina

Lumut kerak juga memiliki nilai penting dalam ekologi. Selain sebagai organisme perintis yang mampu hidup di atas batu, lumut kerak juga dapat menjadi indikator pencemaran udara. Lumut kerak tidak dapat tumbuh di tempat-tempat yang udaranya telah tercemar. Hal itu disebabkan lumut kerak sangat sensitif terhadap beberapa bahan pencemar (polutan) berbahaya, terutama sulfur dioksida. Jadi, untuk mengetahui tercemar atau tidaknya udara di suatu daerah, dapat dilihat dari pertumbuhan kerak di daerah tersebut.

Sumber:
Pujiyanto, Sri.(2012). Menjelaajah Dunia BIOLOGI Untuk kelas X SMA dan MA. Platinum: Solo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *