Suksesi : Suksesi Primer dan Suksesi Sekunder

Suksesi – Apa yang Anda lihat pada lahan yang baru saja terbakar habis? Selain sisa-sisa kebakaran yang berupa abu dan arang, tentu tidak ada lagi yang dapat Anda temukan. Jika lahan tersebut dibiarkan begitu saja, kira-kira apa yang bakal terjadi? Jika telah datang hujan, dalam waktu yang tidak lama akan dapat Anda temukan beberapa tumbuhan liar, seperti rumput dan herba yang mulai tumbuh. Tumbuhan-tumbuhan tersebut akan membentuk suatu komunitas dan mendominasi lahan tersebut pada masa-masa awal pasca kebakaran. Lama-kelamaan, beberapa jenis semak mulai terlihat dan akan mengalahkan sebagian komunitas yang telah ada, bahkan dapat menggantikan rumput dan herba yang lebih dahulu tumbuh di lahan tersebut. Dalam waktu yang lebih lama lagi, akan mulai terlihat beberapa jenis pohon sehingga terbentuk suatu komunitas yang berbeda komposisi anggotanya dari komunitas yang terbentuk sebelumnya. Dari waktu ke waktu, tumbuhan yang tumbuh dan bertahan hidup pada lahan tersebut akan berubah sampai terbentuk suatu ekosistem yang stabil. Peristiwa tersebut merupakan suatu contoh proses suksesi. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan suksesi?

Suksesi adalah proses pertumbuhan komunitas di dalam suatu ekosistem hingga mencapai keadaan klimaks. Keadaan klimaks suatu ekosistem ditandai dengan adanya keadaan di mana se uruh anggota komunitas mencapai keseimbangan yang dinamis. Dari contoh pada Gambar di bawah ini, Anda dapat mengetahui bahwa komunitas bukan merupakan satu kesatuan yang statis (tetap), melainkan bersifat dinamis atau senantiasa mengalami perubahan.

suksesi danau

Hanya sedikit sekali komunitas yang dapat bertahan tanpa mengalami perubahan untuk jangka waktu lama. Banyaknya perubahan itu tidak selalu sama untuk tiap komunitas. Perubahan yang meliputi struktur dan komposisi komunitas itu terjadi sesuai dengan perubahan musim ataupun dengan berjalannya waktu. Dibandingkan komunitas akuatik, komunitas terestrial mempunyai kecenderungan untuk berubah secara teratur dalam jangka waktu bertahun-tahun hingga dicapai suatu keadaan yang memungkinkan komunitas tersebut bertahan secara terus-menerus selama iklim tidak berubah atau selama tidak ada gangguan. Proses perubahan komunitas yang terjadi sedikit demi sedikit dalam suatu jangka tertentu menuju satu arah hingga terbentuk komunitas yang berbeda dari komunitas semula itu dinamakan suksesi (Latin: sub = di bawah, setelah; cedere = berlalu).

Mengapa suksesi dapat terjadi? Suksesi terjadi sebagai akibat dari adanya interaksi antara tekanan lingkungan dan kemampuan adaptasi anggota komunitas serta kompetisi antarkomunitas dalam ekosistem. Suatu prosessuksesi biasanya diawali dengan tumbuhnya tumbuhan perintis yang dapat meliputi tumbuhan ganggang, lumut kerak (liken/ lichens), lumut daun, dan beberapa jenis tumbuhan tingkat tinggi tertentu. Namun, karena tahan terhadap kekeringan, suhu yang ekstrim, dan kadar unsur-unsur hara yang sangat rendah, lumut kerak sangat ideal sebagai tumbuhan perintis. Kehadiran tumbuhan perintis akan menambah jumlah partikel-partikel mineral tanah. Partikel-partikel mineral itu berasal dari pembusukan tumbuhan perintis yang mati. Meningkatnya kandungan mineral tanah menyebabkan perubahan faktor-faktor abiotik tanah, seperti pH, kandungan unsur-unsur hara, dan kadar air sehingga pada akhirnya terbentuk lingkungan yang cocok bagi tumbuh-tumbuhan baru lainnya.

Dalam proses suksesi, perubahan yang terjadi tidaklah berlangsung secara terus-menerus, tetapi akan berakhir setelah mencapai batas tertentu. Proses suksesi akan berakhir dengan suatu komunitas atau ekosistem yang stabil, disebut klimaks. Dalam tingkat klimaks tersebut, komunitas atau ekosistem telah mencapai homeostasis. Hal itu dapat diartikan bahwa komunitas sudah dapat mempertahankan kestabilan internalnya sebagai tanggapan komponen-komponen komunitas terhadap pengaruh dari luar yang mengganggu fungsi normal komunitas. Pada suatu komunitas yang telah mencapai klimaks, perubahan – perubahan internal (seperti, pembusukan dan sildus) tetap berlangsung secara terus-menerus. Perubahan-perubahan internal itu diperlukan untuk mempertahankan kehadiran atau keberadaan suatu komunitas. Namun, suatu komunitas atau ekosistem klimaks juga akan mengalami perubahan menjadi komunitas atau ekosistem baru jika ada pengaruh luar yang begitu besar, misalnya bencana alam atau hasil rekayasa manusia.

Berdasarkan kondisi habitat pada awal proses suksesi terjadi, dikenal dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.

A. Suksesi Primer

Suksesi primer terjadi manakala pada suatu kawasan yang semula tidak memiliki komponen biotik, kemudian hadir komponen biotik yang akhirnya hidup dalam kawasan tersebut dan berkembang menjadi suatu ekosistem. Ada pula yang mendefinisikan bahwa suksesi primer terjadi apabila ada gangguan pada komunitas atau ekosistem asal yang mengakibatkan hilang atau musnahnya komunitas asal secara total sehingga di tempat komunitas asal tersebut terbentuk habitat atau substrat baru dengan komunitas yang baru pula. Gangguan tersebut dapat terjadi secara alami (misalnya, tanah longsor, letusan gunung berapi, endapan lumpur di muara sungai, ataupun endapan pasir di pantai) atau dibuat oleh manusia (contohnya, penggundulan hutan, pengurukan lahan, dan penambangan).

Gunung berapi yang meletus, misalnya, mengeluarkan lahar panas ataupun lahar dingin yang akan menyapu bersih semua tempat yang dilewatinya. Akibatnya, tidak ada satu pun bentuk-bentuk kehidupan yang tersisa. Selanjutnya, di tempat-tempat itu akan terbentuk substrat atau habitat baru dengan kondisi lingkungan yang ekstrem. Organisme yang mampu menghuni tempat tersebut untuk pertama kali hanyalah jenis-jenis tumbuhan perintis yang memiliki toleransi tinggi terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem, contohnya lumut kerak. Lumut kerak mampu melapukkan batu-batuan menjadi substrat bagi tumbuhan lain, misalnya tumbuhan paku dan tumbuhan berbiji (Gambar di bawah). Pada gilirannya juga tercipta kondisi lingkungan baru yang sesuai bagi tumbuhan dan organisme lain yang datang kemudian dan yang tidak mampu hidup pada kondisi lingkungan sebelumnya. Pada akhirnya, secara perlahan pada habitat baru tersebut akan terbentuk komunitas klimaks.

Suksesi primer

Contoh klasik tentang suksesi primer adalah pembentukan dan perkembangan komunitas di Kepulauan Krakatau setelah Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Akibat penebangan yang membabi buta suatu ekosistem hutan berubah menjadi ekosistem padang rumput dan kemudian menjadi ekosistem hutan kembali, juga merupakan contoh suksesi primer.

B. Suksesi Sekunder

Pada suksesi sekunder, gangguan pada komunitas atau ekosistem, baik secara alami maupun buatan, tidak memusnahkan ekosistem asal secara total. Oleh karena itu, pada komunitas atau ekosistem asal substrat lama dan kehidupan masih ada. Gangguan, seperti banjir, angin kencang, gelombang tsunami, kebakaran hutan secara alami, penebangan hutan secara selektif, ataupun pembakaran padang rumput secara sengaja terkadang menyisakan komunitas awal. Sisa-sisa komunitas tersebut dapat tumbuh dan membentuk komunitas baru. Perubahan itu terus terjadi sampai terbentuk komunitas klimaks kembali (Gambar di bawah).

suksesi skunder

Proses yang terjadi dan faktor-faktor yang berperan dalam suksesi primer ataupun suksesi sekunder pada prinsipnya sama. Yang membedakannya adalah kondisi habitat awalnya. Pada suksesi primer, habitat awal terdiri atas substrat yang sama sekali baru sehingga tumbuhan yang tumbuh pada tahap awal itu (tumbuhan perintis) berasal dari benih dan biji yang datang dari luar. Sementara itu, pada suksesi sekunder biji-biji dan benih awal dapat berasal dari luar atau dari biji-biji dan benih organisme yang tersisa dari komunitas awal.

Komunitas hasil suksesi sekunder, misalnya padang alang-alang, tegalan, semak belukar bekas ladang, dan bekas kebun karet masih mengalami perubahan ke arah komunitas klimaks, kecuali jika dalam proses itu terjadi lagi gangguan. Jika terjadi gangguan lagi, suksesi akan mundur lagi dan mulai kembali dari titik nol. Secara umum, suksesi sekunder memerlukan waktu yang lebih singkat daripada suksesi primer. Hal itu disebabkan tanah atau substrat sudah terbentuk dan menyokong pertumbuhan banyak tumbuhan dengan lebih cepat.

Sumber:

Pujiyanto, Sri.(2012). Menjelajah Dunia BIOLOGI 1 Untuk kelas X SMA dan MA. Platinum: Solo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *