Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

Tumbuhan Paku (Pteridophyta) – Siapa di antara Anda yang tidak mengenal suplir? Suplir adalah tanaman hias yang banyak ditanam di rumah, perkantoran, ataupun tempat-tempat lain. Hal itu disebabkan suplir memiliki daun yang indah. Daun-daun suplir itu tampak rimbun dan menjuntai sehingga menciptakan nuansa hijau yang menyejukkan.

Suplir merupakan salah satu contoh anggota tumbuhan paku. Paku sudah lebih maju dibandingkan tumbuhan lumut karena sudah memiliki pembuluh pengangkut, yaitu xilem dan floem, sehingga termasuk tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta). Tumbuhan berpembuluh terdiri atas dua kelompok besar, yaitu tumbuhan berpembuluh tanpa biji (Aspermatophyta) dan tumbuhan berpembuluh berbiji (Spermatophyta). Tumbuhan paku termasuk tumbuhan berpembuluh tanpa biji.

1. Ciri-ciri Tumbuhan Paku

Tumbuhan paku termasuk tumbuhan tertua di dunia karena ditemukan sebagai fosil dalam batu berusia 420 juta tahun. Fosil tumbuhan paku dan zaman Karbon, sekitar 360—268 juta tahun lalu, merupakan penyusun sebagian besar batu bara.

Saat ini ada sekitar 10.000 jenis tumbuhan paku yang hidup di bermacam-macam habitat, dan lereng pegunungan hingga daerah berhutan, dan permukaan dinding dan hatu hingga rawa-rawa, juga tepi selokan sena tepi sungai. Paku juga ada yang hidup sebagai epifit pada tanaman lain, misalnya paku tanduk rusa (Platycerium coronarium) (Gambar di bawah ini) dan paku sarang burung (Asplenium sp.).

Platycerium coronarium, Asplenium sp, Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

Tumbuhan paku merupakan tumbuhan darat yang telah memiliki akar, batang, dan daun sesungguhnya. Oleh karena itu, tumbuhan ini termasuk kelompok Cormophyta berspora. Akar paku berupa akar serabut dengan jaringan penyusun terdiri atas jaringan epidermis, korteks, dan silinder pusat. Selain itu, pada akar tumbuhan paku juga terdapat berkas pengangkut xilem dan floem yang tersusun dengan pola konsentris, yaitu xilem berada di tengah dikelilingi oleh floem. Batang tumbuhan paku bervariasi dalam hal ukuran panjang, dan yang sangat kecil, seperti Hymenophyllum lyallii yang berukuran 2—3 cm sehingga sering dikira lumut hati, hingga yang mencapai tinggi 20 m, misalnya paku tiang (Cyathea medullaris) (Gambar di bawah ini).

Hymenophyllum lyallii, Cyathea medullaris, Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

Batang tumbuhan paku juga memiliki jaringan/ berkas pengangkut. Bagian luar paku ditutup oleh kutikula berlapis lilin yang memungkinkan tumbuhan paku tahan terhadap musim kering. Epidermis daun dan batang sebagai tempat terjadinya pertukaran gas.

Daun tumbuhan paku memiliki ciri khusus, yaitu menggulung ketika masih muda, seperti yang terlihat pada Gambar di bawah.

gulungan daun tumbuhan paku

Ditinjau dari bentuk dan ukurannya, ada dua macam daun tumbuhan paku, yaitu mikrofil dan makrofil. Mikrofil adalah daun berukuran kecil seperti sisik dan tidak bertangkai. Makrofil adalah daun berukuran besar, bertangkai, dan bercabang. Sel-selnya telah mengalami diferensiasi membentuk jaringan-jaringan khusus, seperti epidermis, palisade, dan spons.

Di sisi lain, ditinjau dari fungsinya, tumbuhan paku memiliki dua macam bentuk daun, yaitu tropofil dan sporofil. Tropofil merupakan daun yang digunakan khusus untuk fotosintesis dan tidak mengandung spora. Sporofil merupakan daun yang menghasilkan spora dan juga digunakan untuk fotosintesis.

Seperti halnya tumbuhan lumut, tumbuhan paku juga mengalami pergiliran keturunan antara generasi sporofit dan generasi gametofit (Gambar di bawah). Perbedaannya, generasi sporofit pada rumbuhan paku lebih dominan daripada generasi gametofitnya, sedangkan pada tumbuhan lumut sebaliknya. Sporofit adalah penghasil spora. Pada tanaman paku, generasi sporofit adalah rumbuhan paku itu sendiri. Spora digunakan untuk reproduksi aseksual dan untuk persebaran.

Metagenesis Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

Generasi sporofit memiliki umur yang lebih lama dibandingkan generasi gametofit. Generasi sporofit akan menghasilkan spora yang dibentuk di dalam kotak spora (sporangium). Kumpulan sporangium akan membentuk sorus (jamak: sori). Sori tersebut terdapat di bagian bawah perrnukaan daun (Gambar di atas).

Pada beberapa tumbuhan paku, sori dilindungi oleh indusium. Jika spora telah masak, sori akan pecah dan mengeluarkan spora-spora yang ada di dalarnnya. Selanjutnya, spora-spora tersebut diterbangkan oleh angin. Spora yang jatuh pada tempat dengan kelembapan yang sesuai akan berkecambah menjadi protalium.

Protalium merupakan generasi gametofit tumbuhan paku. Gametofit adalah tahap reproduksi seksual yang membentuk gamet. Protalium merupakan talus berukuran kecil dan berbentuk lembaran seperti jantung. Walaupun berukuran kecil, protalium tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan. Protalium melekat pada substrat dengan perantaraan rizoid.

Di sisi bawah protalium, di antara rizoid-rizoid, terdapat struktur pembentuk gamet jantan (anteridium) dan pembentuk gamet betina (arkegonium). Anteridium dan arkegonium jarang dibentuk secara bersamaan, mula-mula dibentuk anteridjum kemudian arkegonium.

Pembuahan pada tumbuhan paku hanya terjadi jika ada air. Pada proses tersebut, gamet jantan berenang menuju arkegonium untuk bertemu dengan gamet betina. Setelah kedua gamet bertemu dan melebur, terbentuklah zigot. Zigot kemudian tumbuh menjadi sporofit yang memiliki akar, batang, dan daun.
Berdasarkan jenis spora yang dihasilkan oleh generasi sporofitnya, tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi paku homospora, paku heterospora, dan paku peralihan.

a. Tumbuhan Paku Homospora

Tumbuhan paku homospora adalah tumbuhan paku yang menghasilkan spora dengan jenis dan ukuran yang sama. Tumbuhan ini sering juga disebut paku isospora. Contoh paku homospora adalah paku kawat (Lycopodium). Gambar di bawah ini menunjukkan skema metagenesis paku homospora.

Skema metagenesis paku homospora, Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

b. Tumbuhan Paku Heterospora

Tumbuhan paku heterospora adalah tumbuhan paku yang menghasilkan dua jenis spora yang berlainan ukurannya, yaitu spora jantan (mikrospora) dan spora betina (inakrospora atau megaspora). Contoh paku heterospora adalah semanggi (Marsilea crenata). Skema metagenesis paku heterospora ditunjukkan pada Gambar di bawah ini.

Skema metagenesis paku heterospora, Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

c. Tumbuhan Paku Peralihan

Tumbuhan paku peralihan merupakan peralihan antara paku homospora dan paku heterospora. Paku ini menghasilkan dua jenis spora, yaitu spora jantan dan spora betina yang berukuran sama. Contoh paku peralihan adalah paku ekor kuda (Equisetum debile). Skema metagenesis paku peralihan dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.

Skema metagenesis paku peralihan, Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

2. Klasifikasi Tumbuhan Paku

Dalam taksonomi tumbuhan, tumbihan paku atan Pteridophyta dibagi menjadi empat kelas berdasarkan struktur tubuhnya, yaitu Psilophyta. Sphenohyta, Lycopodophyta, dan Pterophyta.

a. Paku Purba/Paku Telanjang (Psilophyta)

Nama lain Psilophyta adalah paku purba. Disebut demikian karena sebagian besar anggotanya sudah punah. Psilophyta disebut juga paku telanjang dengan alasan struktur tuhuhnya paling sederhana karena tidak memiliki daun. Kalaupun ada, daun-daun tersebut berukuran kecil (mikrofil) dan belum terdiferensiasi. Beberapa anggotanya juga belum memiliki akar sejati. Meskipun begitu, batang paku purba sudah memiliki berkas pengangkut. Paku purba merupakan paku homospora. Contoh paku purba adalah Psilotum nudum (Gambar di bawah ini).

Psilotum nudum, Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

Ciri utama paku ini (Psilotum nudum) adalah batangnya selalu dikotomis, yaitu bercabang dua. Ciri lainnya, sporangium terletak di ketiak daun. Di dalam tanah, paku purba memiliki akar rimpang (rizom) vertikal dan horizontal.

b. Paku Ekor Kuda (Sphenophyta)

Contoh paku ekor kuda adalah Equisetum (Gambar di bawah). Paku ini memiliki batang yang tumbuh regak, berongga, bercabang, serta beruas-ruas.

Equisetum fluviatile, Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

Batang tersebut bersambung dengan akar rimpang yang menjalar di dalam tanah. Tìap ujung batang/cabang dapat menghasilkan strobilus yang berisi 5-10 sporangium. Batang dengan strobilus di ujungnya terlihat seperti ekor kuda sehingga paku ini dinamakan paku ekor kuda. Paku ini termasuk paku peralihan.

c. Paku Kawat/Paku Rambat (Lycopodophyta)

Paku ini disebut paku kawat karena memiliki batang yang panjang seperti kawat. Batang dan akarnya membentuk percabangan menggarpu. Daun daunnya berukuran kecil, berbentuk rambut atau jarum dan tersusun rapat menurut garis spiral. Sporangiumnya terdapat di dalam strobilus dan menghasilkan isospora. OIeh karena itu, paku kawat termasuk paku homospora. Contoh paku kawat adalah Lycopodium dan Selaginella (Gambar di bawah).

Lycopodium clavatum, Selaginella plana, Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

d. Paku Sejati (Pterophyta)

Pterophyta merupakan kelompok paku yang paling maju dan disebut juga paku sejati. Semua anggota paku sejati memiliki daun yang besar (makrofil), bertangkai, dan memiliki banyak tulang daun. Daun yang muda menggulung pada ujungnya. Di bagian bawah daun terdapat kumpulan sporangium atau sori. Tinggi batang paku sejati cukup bervariasi, dari hanya beberapa sentimeter hingga mencapai 18 meter, misalnya paku tiang (Cyathea sp. dan Alsophila glauca). Kebanyakan anggota paku sejati dimanfaatkan sebagai tanaman hias, misalnya suplir (Adiantum sp.), paku tanduk rusa (Platycerium bifurcatum), dan paku sarang burung (Asplenium nidus). Contoh lain paku sejati adalah semanggi (Marsilea crenata) yang banyak tumbuh di sawah dan dapat dijadikan sayuran (Gambar di bawah).

Marsilea crenata, Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

Tumbuhan paku memiliki banyak anggota yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Tidak ada satu pun tumbuhan paku yang merugikan manusia.

Sumber:
Pujiyanto, Sri.(2012). Menjelaajah Dunia BIOLOGI Untuk kelas X SMA dan MA. Platinum: Solo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *